Iseng-iseng sambil belajar desain, saya akhirnya mencoba membuat visualisasi untuk sebuah puisi saya yang lumayan cukup lama. Judulnya "Dongeng Kejahatan", saya buat di tahun 2008. Berikut ini adalah gambarnya, silakan kawan-kawan blogger yang baik hati mengapresiasinya. Kalau gambarnya kurang terang atau kurang bisa terlihat, sila saja mampir di facebook saya untuk melihat gambarnya yang lebih terang dan jernih. Selamat mengapresiasi dan selamat berkarya juga. Semoga sehat selalu. :)
Showing posts with label Apresiasi Karya. Show all posts
Showing posts with label Apresiasi Karya. Show all posts
19 June, 2010
11 May, 2010
Musikalisasi Puisi Saya
Beberapa waktu lalu saya menulis puisi. Lalu setelah cukup lama tidak mempublikasikan puisi di facebook, saya mempostingnya di suatu malam. Entah kenapa, malam itu saya ingin memposting lagi puisi-puisi saya. Belakangan ini saya sibuk menyelesaikan skripsi dan merampungkan novel saya yang berikutnya: Memburu Binatang jalang, yang saya rencanakan terbit bulan Mei ini.
31 May, 2009
The K: Petualangan Manusia Sintesis di Indonesia Tahun 2200
Penulis: Kesit Susilowati
Terbit: Mei 2009
Jumlah Halaman: xxi+439
“Aku tak tahu pasti, entah bagaimana ceritanya...”
T’xela menahan kalimatnya. Haruskah aku cerita bahwa seharusnya akulah yang berkalung maut itu. Karena aku seorang mansis,manusia sintesis dengan berbagai keunggulan dan sangat ideal untuk segala misi, yang mustahil sekalipun. Karena seorang mansis adalah JIWA TIADA HARGA. Harganya adalah semua dana yang dihabiskan selama penciptaannya.
Aku bukan Homo Sapien! Aku adalah fantasi DNA Bernyawa Berjiwa Tapi, tak ada yang melihat Karena semua menganggapku sebagai hasil dari tipu muslihat.
Terbit: Mei 2009
Jumlah Halaman: xxi+439
“Aku tak tahu pasti, entah bagaimana ceritanya...”
T’xela menahan kalimatnya. Haruskah aku cerita bahwa seharusnya akulah yang berkalung maut itu. Karena aku seorang mansis,manusia sintesis dengan berbagai keunggulan dan sangat ideal untuk segala misi, yang mustahil sekalipun. Karena seorang mansis adalah JIWA TIADA HARGA. Harganya adalah semua dana yang dihabiskan selama penciptaannya.
Aku bukan Homo Sapien! Aku adalah fantasi DNA Bernyawa Berjiwa Tapi, tak ada yang melihat Karena semua menganggapku sebagai hasil dari tipu muslihat.
Apakah Anda termasuk orang yang suka sekali menonton film-film hollywood? Film berteknologi mutakhir, dengan alur mencekam dan kisah-kisah tak biasa, aneh, baru dan sungguh memikat. Atau Anda termasuk pencinta bacaan-bacaan cerdas yang memukau. Anda senang berkunjung ke toko buku mencari referensi lain dari novel-novel Indonesia. Namun Anda kecewa dan tak mendapatkan apa-apa.
Jangan kecewa dulu, balik lagi ke toko buku langganan Anda lalu lihatlah sebuah cover berwarna putih, berhiaskan awan dan sebuah gambar tangan sedang mencengkeram sesuatu. Ambil dan bayarlah di kasir segera. Lalu bergegaslah pulang untuk membacanya. Jangan lupa kunci kamar dan nyalakan lampu yang lebih terang. Maka anda akan terpukau, menikmati bab demi bab, lembar demi lembar buku itu. Sebuah buku yang bercerita tentang petualangan dua sahabat: Txela dan Qwanta. Petualangan di Indonesia pada tahun 2200. Apakah Anda bisa membayangkannya?
Apa? Indonesia tahun 2200?! Memang apa yang terjadi di era itu? Maka K akan menjawab: planet-planet berevolusi. bumi makin renta. berubah secara total dan cepat, tak terduga. drastis. kutub utara dan selatan mencair. khatulistiwa timbul tenggelam dalam gelombang lautan. udara asam. polusi. badai datang tak terduga. dunia semakin renta, tua. manusia-manusia rakus pengetahuan menabrak nilai, memporak-porandakan tatanan kehidupan. mencipta manusia-manusia sintesis. merebut dominasi Tuhan. merekalah, inohedonist; mereka mempercepat kiamat
Lalu Anda akan semakin penasaran, membalik-balik lembaran buku itu, menemukan sebuah cerita tentang MANUSIA SINTESIS, MANUSIA KLONING, yang hidup tanpa punya harga diri. Harga diri mereka hanya sebatas biaya yang dipakai untuk memproduksi mereka. Dan hal ini terjadi bukan lagi di Amerika, bukan lagi di Eropa dan negara-negara maju lainnya. Tapi di INDONESIA, Indonesia yang saat itu telah berubah jauh, menjadi negara dengan cuaca yang tak menentu, iklim yang buas; ancaman badai yang bisa datang kapan saja tanpa terduga.
Ini adalah buku dengan setting yang dekat, cerita yang dekat pula dengan masyarakat kita. Namun tak pernah biasa, karena objek yang dibidik adalah objek yang berbeda. Maka teruskanlah membaca sampai usai.
Anda mungkin tidak akan percaya kalau buku fantasi futuristik ini lahir dari tangan seorang warga Indonesia. Dominasi media Barat serta nyaris tak adanya penulis lokal dengan tema sains yang mendalam dan jenius membuat kita lupa bahwa penulis Indonesia juga cerdas. Buku K ini adalah buktinya. Anda tak akan percaya buku ini ditulis oleh orang Indonesia.
***
Beberapa tanggapan untuk The K
"Mendebarkan, menjebak, dan liar. Inilah novel saintifik pertama di Indonesia yang menghubungkan dimensi manusia, bumi, atmosfer, dan antariksa dengan sangat cermat dan tepat. Penulis begitu piawai menyulap fenomena yang jauh dan tak terbayangkan menjadi amat dekat dan logis bakal terjadi di dunia masa depan. Ditulis dengan bahasa yang renyah mengalir, novel yang memotret rekayasa teknologi dengan detail ini, enak dibaca oleh siapa saja."
Erma Yulihastin, Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dan Ketua Forum Lingkar Pena Bogor.
“The K dipenuhi dengan neologisme dan teknik narasi yang agak jarang ditemukan pada novel pada umumnya, tema lingkungan, manusia sintesis, overpopulation, alusio dunia buatan pada situasi Indonesia, perubahan iklim yang ekstrim, sentimen rasisme pada kaum minoritas yang dianggap superior, kemiskinan, pembodohan sistematis, represi, pertentangan pada kaum konservatif, supremasi kelompok agama tertentu. The K memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin menjadi “bom waktu” di masyarakat kita, bukan Indonesia, tapi juga Dunia.
Calvin Michel Sidjaja, novelis pemilik blog www.republikbabi.com
04 February, 2009
Niskala: Trauma Sejarah yang Berkepanjangan

Judul buku: NISKALA “Gajah Mada Musuhku”
Penulis: Hermawan Aksan
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, 2008
Tebal: viii+289 halaman
Resensi Oleh: Irwan Bajang
Memadukan fakta sejarah dengan fiksi dalam sebuah novel adalah sebuah pekerjaan yang tak bisa dibilang gampang. Tidak banyak penulis Indonesaia yang mampu melakukannya. Barangkali Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu yang terbaik. Penulis yang lebih banyak menghabiskan hidup dan proses kretif kepenulisannya di tanah buangan Pulau Buru. Pram dengan piawai menyajikan kisah Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui roman Arus Balik. Dan Bumi Manusia, episode pertama dari tetraloginya paling popular yang melambungkan namanya. Di karya yang tersebut terakhir it, Pram dengan kuat menggambarkan seorang tokoh pers pertama indonesia, Raden Mas Tirto Adi Suryo. Penulis lainnya adalah Remy Sylado, Langit Kresna Hariadi dengan serial Gajah Mada-nya dan tentu saja Hermawan Aksan.
Hermawan Aksan, seorang wartawan di Jawa Barat ini, memiliki beberapa kesamaan dengan Langit Kresna Hariadi, mereka sama-sama menulis kembali riwayat Gajah Mada. Hanya saja, Hermawan mengambil sudut pandang yang sama sekali berbeda, yakni sudut pandang orang Sunda. Dalam novel Niskala ini, Ia menceritakan secara dramatis, pergolakan batin seorang Putra Mahkota Kerajaan Sunda.
Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa yang kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; sebuah perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bahkan bekasnya masih terus terasa hingga kini. Jangan harap kita bisa menemukan nama jalan Gajah Mada, Majapahit, Hayam Wuruk, atau segala hal yang berbau Majapahit di kota Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya. Betapa perang bubat telah meninggalkan luka historis yang berkepanjangan bagi orang Sunda.
Cerita Perang Bubat sendiri, telah ditulis Hermawan Aksan dalam novel Dyah Pitaloka pada tahun 2005. Ia tampaknya tidak puas dengan buku sebelumnya. Ia kemudian melanjutkan ceritanya dalam novel terbarunya ini, Niskala “ Gajah Mada Musuhku”
Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu masih berusia sembilan tahun. Kematian ayahanda dan kakak semata wayangnya di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah memupuk benih dendam dalam hatinya. Dan tujuh tahun kemudian ia memutuskan mengembara, sebagai mana layaknya putra mahkota di hampir seluruh kerajaan di nusantara pada waktu itu. Namun sungguh tujuannya bukan hanya mengembara, melainkan mencari seorang Mahapatih yang terkenal sakti mandraguna, Maha Ppatih Gajah Mada. Sang Bocah Niskala ini ingin menantangnya bertarung untuk menghempaskan dendam akibat kematian ayah dan kakaknya. Ia berangkat menuju majapahit untuk bertemu dengan seorang yang membuat ia kehilangan keluarganya; Gajah Mada.
Dari sinilah, kisah apik di ceritakan dengan lancar oleh penulisnya. Termasuk pertarungan para pendekar-pendekar sepanjang perjalanan.
Membaca novel ini, kita seolah disajikan sebuah cerita silat yang sering kali kita tonton dalam film-film kolosal seperti Angling Darma, Brama Kumbara, Misteri Gunung Merapi, Saur Sepuh, Tutur Tinular dan beberapa kisah silat Indonesia era sembilan puluhan lalu. Beberapa pengulangan perkelahian memang terkesan monoton, namun bagi sebagian pembaca yang doyan cerita silat, kerinduan akan kurangnya buku-buku serial silat Indonesia saat ini akan dapat terobati. Di setiap perjalanan, Niskala bertemu banyak pendekar yang selalu mengajaknya berkelahi dan mengadu kekuatan. Sebuah pengalam berkelana yang mengasikkan untuk dibaca.
Hingga pada akhirnya, si Niskala bertemu dengan sang Maha Patih yang ternyata sudah tidak sesakti dahulu lagi. Umur telah menelan kedigjayaan masa muda Gajah Mada.
Barangkali Niskala Tidak bisa di pakai sebagai sebuah rujukan yang kompleks tentang sejarah hubungan tidak harmonis kerajaan Sunda dan Majapahit. Novel ini lebih banyak mengajukan suguhan cerita fiksi ketimbang fakta sejarah, meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang berhubungan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Namun Niskala telah menambah perbendaharaan novel sejarah klasik Nusantara. Terlepas dari kompleksitas acuan Pustaka yang dipakai untuk menulisnya, Hermawan Aksan mengobati kerinduan akan bacaan buku cerita kolosal melalui sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan novel-novel sejenis lainnya.
27 July, 2008
Rumah Merah untuk Negara Sailon

Novel Nasionalis dan Penuh Semangat
RAZONCA “Rumah Merah Kita”
SAILON sebuah Negara kepulauan yang makmur. Kaya raya dan hasil alam yang melimpah. Memiliki pemuda yang berani berkorban untuk kesejahteraan masyarakatnya.
Di tengah cengkaraman negara tetangga, rejim yang otoriter dan tidak berpihak pada rakyatnya, perlawanan pun muncul dari pemuda-pemuda cerdas dan pemberani. Mereka mendirikan Rumah Merah dan menyusun starategi untuk memulihkan keadaan dan membawa ke arah perubahan.
Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita yang ingin mereka bangun.
Inilah sebuah karya fiksi fantasi yang sangat dekat dengan keseharian kita, keseharian negara kita dan sebagian besar negara dunia ketiga di belahan bumi. Semangat perlawanan, persahabatan serta kisah asmara rahasia berbaur dalam pergelutan umat manusia menuju keadaan yang diidamkan semua orang; kemakmuran.
Novel ini memberi banyak pelajaran bagi pemerintah dan para pemuda untuk menjaga negaranya.
Mari membaca, menyelami berbagai kisah di dalamnya dan tertawa, tersenyum sekaligus menangis. Karena kita menemukan diri kita di dalamnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)