12 April, 2009

Istri pada Suami

waktu yang lama
senggama-senggama bisu yang juga lama
: ternyata tak pernah menjadi ikatan untuk kita tetap saling setia

perjalanan yang panjang
tatap yang hangat
juga perbincangan mesra tanpa sekat
pun tak membuat kita mematuhi janji untuk tidak bercerai

anak yang lucu,
juga berbakti...
akh, sudahlah! kau telan saja ludah setiamu
kesetiaan adalah hubungan tak suci mulut dan pasta gigi
segar saat selesai bersenggama, lalu bau setelah makan terasi dan bawang


Jogjakarta, 10 April 2009

08 April, 2009

Kalian dan Saya: Saya Pilih Diri Saya Sendiri

TIBA-TIBA saja kalian datang, bergerombol, membawa banyak senyum dan wajah gembira. Wajah tanpa dosa dengan hiasan ramah-tamah.


Tiba-tiba kalian mengaku saudara, mengaku kerabat, mengaku sependeritaan, mengaku satu mimpi, lalu satu tujuan bersama dengan saya. Wah, padahal saya tidak kenal sama kalian. Kalian saja yang tiba-tiba nongol dan menawarkan diri. Sok kenal dan sok baik. Padahal sebelumnya, mana pernah kalian ada untuk saya. Kalian ini, ada-ada saja. Tidak punya malu ya?
Kalian ajak saya bergembira. Kita rayakan demokrasi, begitu katamu. Mari memilih untuk untuk tujuan bersama! Bah, tujuan bersama apa? Yang jelas kalau bicara! Tujauan apa? Bisa kalian jelaskan dengan detail tujuan itu? Kemakmuran maksudmu? kemakmuran itu kue kering manis ya? Atau buah-buahan?


Waaah, orang tua saya sudah capai cari uang untuk sekolah saya. Mana pernah kalian bantu, sekolahku makin mahal, perlu banyak biaya untuk beli buku pelajaran adik-adik saya. Ibu mengeluh, harga beras naik melulu, bapak merengut, kalau mau kerja, motor harus disi bensin dengan harga mahal. Seringkali bapak mendesah; negara penghasil minyak kok minyak mahal, minyak naik bukannya sukur dapat subsidi malah ikut bayar mahal. Ada-ada saja ya kalian ini.


Nenek sudah tua, tidak berani ke rumah sakit, mahal ongkosnya, beli obat bisa bikin saya sekeluarga puasa delapan belas kali bulan purnama.


Sekarang kalian datang. Masih dengan tiba-tiba. Datang bawakan kami mimpi. Bilang kalau kalian saya pilih, kalian bakalan bikin hati saya bahagia. Oh ya? Dulu bapak saya juga katanya kalian janjikan begitu. Nenek saya, tetangga-tetangga saya, paman, sepupuku, kakak dari bibinya saudara sepupu anak tiri saudara paling tua bapak saya (bingung, kan?). Buktinya kemarin saja si Imin kena PHK, Pak Anto sakit demam berdarah tidak bisa bayar di rumah sakit. Lah bagaimana dong? Coba, coba bikin saya percaya. Biar saya yakin coret muka kamu di TPS besok pagi.


Kalian ini memang suka melucu ya, melucu dan tidak tahu malu. Pasang poster sana-sini pakai gaya yang paling narsis, buang-buang duit cuma buat minta dipilih. Saya saja tidak pernah mengemis, kalian mengemis. Kalian sms saya, kirimkan lewat email, kirimkan juga kalender ke rumah saya, stiker, uuuh! Kalian tempel sembarangan di pagar rumah. Benar-benar tidak sopan! Motor lagi parkir kalian tempelkan stiker norak beraneka warna, kurang kerjaan sekali ya!!!


Kalau mau dipilih, ya minta saja bapak kalian, anak kalian, istri-istri kalian, temen-temen kalian. Bukankah kita tidak pernah saling kenal? Bukan saudara, bukan tetangga, kalian enak-enak saja senyam- senyum sambil minta dipilih. Paling-paling kalau sudah saya pilih, kalian lupa. Baru ingat lima tahun lagi, kalau di kampung saya banyak yang milih kalian.


Coba, coba beri saya bukti. Murahkan sekolah saya, bensin motor saya, beras ibu saya, rokok bapak saya, obat nenek saya, buku adek saya. Bisa? Bisa kalian murahkan semuanya? Jangan PHK teman saya, jangan pecat sepupu saya. Obati tetangga saya, kasih susu adik-adik saya. Bukankah kalian telah menawarkan sebuah negara imajiner pada saya? Sebuah mimpi utopis buat saya dan keluarga?


Ayo, ayo jelaskan, lalu buktikan. Biar saya mantap besok pagi pegang pena coret muka kalian! Kalau tidak bisa, ya sudah. Besok pagi saya tidak mau milih kamu. Saya pilih diri saya sendiri.




Kos-kosan, 8 April 2009
Irwan Bajang

06 April, 2009

Tak Kau Tahu

Kau tidak pernah tahu. Aku belum bisa mengatakannya sekarang; di awal surat ini. tapi akan aku katakan di ujung tulisan ini. (Eits, kamu tidak boleh melihatnya. Baca saja urut seperti aku menulisnya. Oke? Mari kita lanjutkan!)

Ini surat cintaku yang pertama. Pertama menulis, pertama pula untukmu.

Kita pernah saling mengenal. Kau tahu itu.

Persinggungan panas dan air laut, adalah asal muasal uap menjadi hujan. Hujan yang deras berawal dari air yang terlalu banyak menanjak, menjadi awan yang berat. Awan tak kuat menahan uap air, maka jatuhlah hujan. Itu yang terjadi pada kita. Pertemuan kita menjadi awal untuk perpisahan yang mungkin akan lama. Perpisahan awan dengan uap yang dikandungnya.

Aku ingat saat kita berkenalan. Pandanganmu aneh. Aku mengenal jenis pandangan itu. Kau tidak pernah bisa menipu mataku. Aku terlalu paham bahasa mata. Apa lagi mata yang ganjil seperti matamu. Dan kau membuktikannnya sehari setelah jabat tangan yang kau anggap berkesan itu. Kau mengagumiku, katamu. Aku melambung, hanya sejenak tapi. Aku tak pernah mau menikmatinya. Aku tak bisa menikmati rasa melambung yang kau ciptakan.

Dari situlah, cerita berat harus aku jalani. Menjadi kekasihmu adalah hal yang berat bagiku.

Barangkali kau menganggap aku… akh, berat sekali aku mengungkapanya. Baiklah. Kau harus tahu sifatku; aku lelaki kacangan, terlalu mudah jatuh cinta, aku terlalu lemah untuk bertindak. Kalau aku tak salah rasa, aku yakin kau sangat mencintaiku. Benar, kan? Lagi-lagi kau tidak bisa berbohong dengan tatapan matamu, ditambah senyummu. Akuilah kau sangat mencintaiku.

Lalu kita berpacaran. Sebuah hubungan aneh yang tiba-tiba. Kau mengucapkan terimakasih karena telah aku pilih, dank au mengucapkan cinta juga.

Tapi jangan marah kalau aku sebenarnya berat untuk menjalaninya. Ini kesalahanku karena tak tegas dahulu; sesungguhnya aku tidak pernah mencintaimu. (tolong, tolong jangan salahkan aku. Bukannya aku tak tahu diri, aku memang tidak bersalah. Begitu juga kamu. Keadaan saja yang membuat semuanya seprti ini. biarlah… waktu akan menjawabnya)

Kau tentu tidak pernah tahu. Biarlah aku katakan sekarang. Yang mengucapkan cinta padamu dulu bukan aku. Tapi temanku. Maafkan aku.

NB:

Malam ini aku berangkat menuju laut. Tolong, jangan cari aku. Jangan rindukan aku. Aku tak pernah mencintaimu.

Yogyakarta, 2008.

reinkarnasi

telah ribuan tahun aku mencari
menelusuri sembari memburu lewat reinkarnasi
sejak kakek buyutku berkalikali menjelma puisi
menjadi laut, batu, pohon
juga kelelawar
betapa rindu aku pada perjamuan suci kita

kucari kau sembari menulis jutaan kitab suci

aku menjelma batu, kau menjelma ilalang
aku jadi rimba, kau meraung jadi harimau
aku berubah laut, kau merupa pasir
aku menjelma kabut, kau membumbung bukit
aku tumbuh berpohon, kau menitis awan
betapa serasi hidup kita
yang tak pernah berdekatan,
meski sangat mungkin untuk berpeluk

ooh…
kau yang aku buru beriburibu tahun
pada bangkai malam
juga panas yang merayap di kulit berkeringatku
ratusan bahkan ribuan kali reinkarnasi
ku buru kamu
meski pertemuan kadang tak berani aku resapi
aku lahir di tigris
tumbuh di andalusia
mengalir di jawa
menetas di bali
bergulung di antartika
menggigil di eropa
mampus aku di gaza
bangkit lagi aku di kutub utara

aku telah melebur menjadi api, memanjat gunung menjadi angin
menapaki sungai dengan menjelma air

oh, tuhan… betapa rindu ini
rindu semesta jauh sebelum masehi
semanjak kita berjanji untuk berpisah setelah aku makan huldi


Yogyakarta, 23 Maret 2009
1:38 AM

Setia

Jangan berikan titik pada ucapanmu
Biarkan berkoma berkoma
Meskipun pakai tanda seru− jangan pernah menutup buku kisah kita


Yogyakarta, 2008

04 February, 2009

Niskala: Trauma Sejarah yang Berkepanjangan


Judul buku: NISKALA “Gajah Mada Musuhku”
Penulis: Hermawan Aksan
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, 2008
Tebal: viii+289 halaman
Resensi Oleh: Irwan Bajang


Memadukan fakta sejarah dengan fiksi dalam sebuah novel adalah sebuah pekerjaan yang tak bisa dibilang gampang. Tidak banyak penulis Indonesaia yang mampu melakukannya. Barangkali Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu yang terbaik. Penulis yang lebih banyak menghabiskan hidup dan proses kretif kepenulisannya di tanah buangan Pulau Buru. Pram dengan piawai menyajikan kisah Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui roman Arus Balik. Dan Bumi Manusia, episode pertama dari tetraloginya paling popular yang melambungkan namanya. Di karya yang tersebut terakhir it, Pram dengan kuat menggambarkan seorang tokoh pers pertama indonesia, Raden Mas Tirto Adi Suryo. Penulis lainnya adalah Remy Sylado, Langit Kresna Hariadi dengan serial Gajah Mada-nya dan tentu saja Hermawan Aksan.

Hermawan Aksan, seorang wartawan di Jawa Barat ini, memiliki beberapa kesamaan dengan Langit Kresna Hariadi, mereka sama-sama menulis kembali riwayat Gajah Mada. Hanya saja, Hermawan mengambil sudut pandang yang sama sekali berbeda, yakni sudut pandang orang Sunda. Dalam novel Niskala ini, Ia menceritakan secara dramatis, pergolakan batin seorang Putra Mahkota Kerajaan Sunda.

Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa yang kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; sebuah perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bahkan bekasnya masih terus terasa hingga kini. Jangan harap kita bisa menemukan nama jalan Gajah Mada, Majapahit, Hayam Wuruk, atau segala hal yang berbau Majapahit di kota Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya. Betapa perang bubat telah meninggalkan luka historis yang berkepanjangan bagi orang Sunda.

Cerita Perang Bubat sendiri, telah ditulis Hermawan Aksan dalam novel Dyah Pitaloka pada tahun 2005. Ia tampaknya tidak puas dengan buku sebelumnya. Ia kemudian melanjutkan ceritanya dalam novel terbarunya ini, Niskala “ Gajah Mada Musuhku”

Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu masih berusia sembilan tahun. Kematian ayahanda dan kakak semata wayangnya di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah memupuk benih dendam dalam hatinya. Dan tujuh tahun kemudian ia memutuskan mengembara, sebagai mana layaknya putra mahkota di hampir seluruh kerajaan di nusantara pada waktu itu. Namun sungguh tujuannya bukan hanya mengembara, melainkan mencari seorang Mahapatih yang terkenal sakti mandraguna, Maha Ppatih Gajah Mada. Sang Bocah Niskala ini ingin menantangnya bertarung untuk menghempaskan dendam akibat kematian ayah dan kakaknya. Ia berangkat menuju majapahit untuk bertemu dengan seorang yang membuat ia kehilangan keluarganya; Gajah Mada.
Dari sinilah, kisah apik di ceritakan dengan lancar oleh penulisnya. Termasuk pertarungan para pendekar-pendekar sepanjang perjalanan.

Membaca novel ini, kita seolah disajikan sebuah cerita silat yang sering kali kita tonton dalam film-film kolosal seperti Angling Darma, Brama Kumbara, Misteri Gunung Merapi, Saur Sepuh, Tutur Tinular dan beberapa kisah silat Indonesia era sembilan puluhan lalu. Beberapa pengulangan perkelahian memang terkesan monoton, namun bagi sebagian pembaca yang doyan cerita silat, kerinduan akan kurangnya buku-buku serial silat Indonesia saat ini akan dapat terobati. Di setiap perjalanan, Niskala bertemu banyak pendekar yang selalu mengajaknya berkelahi dan mengadu kekuatan. Sebuah pengalam berkelana yang mengasikkan untuk dibaca.

Hingga pada akhirnya, si Niskala bertemu dengan sang Maha Patih yang ternyata sudah tidak sesakti dahulu lagi. Umur telah menelan kedigjayaan masa muda Gajah Mada.

Barangkali Niskala Tidak bisa di pakai sebagai sebuah rujukan yang kompleks tentang sejarah hubungan tidak harmonis kerajaan Sunda dan Majapahit. Novel ini lebih banyak mengajukan suguhan cerita fiksi ketimbang fakta sejarah, meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang berhubungan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Namun Niskala telah menambah perbendaharaan novel sejarah klasik Nusantara. Terlepas dari kompleksitas acuan Pustaka yang dipakai untuk menulisnya, Hermawan Aksan mengobati kerinduan akan bacaan buku cerita kolosal melalui sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan novel-novel sejenis lainnya.

01 December, 2008

MIMPI


Mari mengutip mimpi semesta
Mencontek masa depan lewat hayalan
Jangan takut,
Bukankah kita tidak pernah membayar untuk sebuah lamunan?

Mari tertawa

Kau tak pernah tahu
Jika ada malaikat iseng membawa guyonanmu melapor pada Atasannya
Siapa tahu

Ssstt…


gambar diculik dari:http://yhadiprakarsa.files.wordpress.com/2006/09/edge.jpg
Yogyakarta, Januari 2008

Nanti kamu aku tinju

Aku tak suka senyummu
Kau pintar meniru
Jadi tolong menjauh dariku
Nanti kamu aku tinju


Yogyakarta, 10 November 2008

10 November, 2008

Omelan Seorang Korban Bom Bali

Akhirnya ia mati juga, di tembak regu eksekusi! Mampuslah kau di neraka wahai Amrozi dkk.

Aku tidak akan memaafkanmu,tidak akan pernah. Meskipun kau telah mati, dan dengan tidak memaafkanmu, aku tahu kau tidak akan pernah tenang di kuburmu. Bukankah kau lebih tahu, kalau Tuhan tidak pernah akan memberimu surga, jika dosamu pada manusia belum kamu tebus? Dan sekali lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu.

Kalau diizinkan menghukummu, aku tidak akan pernah memberimu hukuman mati. Itu terlalu ringan bagimu. Kalau boleh aku ingin menyiksamu, mengiris wajahmu, mencambukmu, lalu memotong tangan dan kakimu. Agar kau merasakan hal yang setimpal denganku; hidup tersiksa selamanya tanpa tahu kapan penderitaan berakhir, dan berniat mengakhiri hidupmu.

Kau tidak pernah menderita semenderita aku.
Apa salahku? Dan kenapa kau mencelakaiku. Jihad? Tai kucing dengan jihadmu!

Waktu itu aku sedang liburan ke Bali. Hari yang sial dan terkutuk. Kami baru tiba di pulau itu, dan semuanya terjadi begitu cepat. Kami tidak pernah bermimpi. Setelah menabung sekian bulan uang jerih payah dan banting tulangku serta suami, kuajaklah keluargaku berlibur ke pulau yang kau benci itu. Belum sempat kami menikmati sun set di Kuta, atau indahnya Tanah Lot, dan kalian telah merenggut semuanya. Bajingan kau Amrozi! Tuhanku mengutukmu.


Tiga anakku mati seketika, aku beserta suami cacat permanen dengan jihad brengsekmu itu! Sementara kau? Hanya di penjara dan dengan tenang meregang nyawa, hanya sepuluh menit mengerang setelah ditembak. Dan dalam keyakinanmu, arwahmu dibawa burung-burung terbang menuju nirwana. Surga yang kau idam-idamkan dengan membunuh keluargaku. Mengahancurkan masa depan ratusan orang. Membuat sedih ratusan keluarga dan menghancurkan penghasilan ratusan orang.

Itu yang kau sebut Jihad? Berteriak Allahuakbar, sambil meluluhlantahkan pekerjaan orang?
Berteriak Lailahailallah sambil meremukkan kepala anak-anakku? Mengancurkan lengan kiri suamiku, membuatku hidup tanpa punya harapan sedikit pun. Itu yang kau sebut Jihad, Bajiangan?!

Kau mati dan dianggap mujahidin oleh golonganmu! Tai kucing itu semua. Aku menganggapmu pahlawan biadab. Karena wajahku yang dulu bisa tersenyum untuk suamiku, kini telah rusak parah gara-gara jihad bodohmu itu. Gara-gara keyakinanmu yang sungguh begitu egois.

Aku juga muslim, sama sepertimu. Mengucap kalimat syahadat, solat lima waktu, percaya pada malaikat dan kitab-kitab langit. Aku naik haji dan memberi makan kaum miskin, berpuasa dan bersyukur kepada Tuhan, sama seperti kau. Lalu, apa salahku? Apa salah suami dan ankku? Saat kau dengan nistanya berteriak Tuhan Maha Besar sambil meledakkan kepala putriku. Membiarkan darah dan otaknya berhaburan kewajaku yang langsung disambut api setelah terpelanting jatuh ke aspal. Kau tidak merasakannya!!!

Tuhanku (Tuhan yang mungkin juga kau akui) pernah bilang, “bagiku agamaku dan bagimu agamamu”. Lalu apa urusanmu dengan orang yang ingin kau bunuh itu? Apa rumahmu sudah bersih? Apa keluargamu sudah taat semua, dan apa kau jauh lebih baik dari mereka yang kau binasakan? Adakah kau tahu itu? Bahwa mereka lebih berdosa dari kamu? Atau kamu merasa dirimu Tuhan?

Kau menjadikan dirimu lebih sombong dari Tuhan. Lebih egois dari ajaran fundamental yang kau yakini. Surga yang kau bayangkan tidak akan pernah kau dapatkan. Aku tetap berdoa pada Tuhan untuk mengekalkanmu di neraka jahannam! Amin.

27 July, 2008

Rumah Merah untuk Negara Sailon




Novel Nasionalis dan Penuh Semangat
RAZONCA “Rumah Merah Kita”

SAILON sebuah Negara kepulauan yang makmur. Kaya raya dan hasil alam yang melimpah. Memiliki pemuda yang berani berkorban untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Di tengah cengkaraman negara tetangga, rejim yang otoriter dan tidak berpihak pada rakyatnya, perlawanan pun muncul dari pemuda-pemuda cerdas dan pemberani. Mereka mendirikan Rumah Merah dan menyusun starategi untuk memulihkan keadaan dan membawa ke arah perubahan.

Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita yang ingin mereka bangun.

Inilah sebuah karya fiksi fantasi yang sangat dekat dengan keseharian kita, keseharian negara kita dan sebagian besar negara dunia ketiga di belahan bumi. Semangat perlawanan, persahabatan serta kisah asmara rahasia berbaur dalam pergelutan umat manusia menuju keadaan yang diidamkan semua orang; kemakmuran.

Novel ini memberi banyak pelajaran bagi pemerintah dan para pemuda untuk menjaga negaranya.

Mari membaca, menyelami berbagai kisah di dalamnya dan tertawa, tersenyum sekaligus menangis. Karena kita menemukan diri kita di dalamnya.