01 December, 2008

MIMPI


Mari mengutip mimpi semesta
Mencontek masa depan lewat hayalan
Jangan takut,
Bukankah kita tidak pernah membayar untuk sebuah lamunan?

Mari tertawa

Kau tak pernah tahu
Jika ada malaikat iseng membawa guyonanmu melapor pada Atasannya
Siapa tahu

Ssstt…


gambar diculik dari:http://yhadiprakarsa.files.wordpress.com/2006/09/edge.jpg
Yogyakarta, Januari 2008

Nanti kamu aku tinju

Aku tak suka senyummu
Kau pintar meniru
Jadi tolong menjauh dariku
Nanti kamu aku tinju


Yogyakarta, 10 November 2008

10 November, 2008

Omelan Seorang Korban Bom Bali

Akhirnya ia mati juga, di tembak regu eksekusi! Mampuslah kau di neraka wahai Amrozi dkk.

Aku tidak akan memaafkanmu,tidak akan pernah. Meskipun kau telah mati, dan dengan tidak memaafkanmu, aku tahu kau tidak akan pernah tenang di kuburmu. Bukankah kau lebih tahu, kalau Tuhan tidak pernah akan memberimu surga, jika dosamu pada manusia belum kamu tebus? Dan sekali lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu.

Kalau diizinkan menghukummu, aku tidak akan pernah memberimu hukuman mati. Itu terlalu ringan bagimu. Kalau boleh aku ingin menyiksamu, mengiris wajahmu, mencambukmu, lalu memotong tangan dan kakimu. Agar kau merasakan hal yang setimpal denganku; hidup tersiksa selamanya tanpa tahu kapan penderitaan berakhir, dan berniat mengakhiri hidupmu.

Kau tidak pernah menderita semenderita aku.
Apa salahku? Dan kenapa kau mencelakaiku. Jihad? Tai kucing dengan jihadmu!

Waktu itu aku sedang liburan ke Bali. Hari yang sial dan terkutuk. Kami baru tiba di pulau itu, dan semuanya terjadi begitu cepat. Kami tidak pernah bermimpi. Setelah menabung sekian bulan uang jerih payah dan banting tulangku serta suami, kuajaklah keluargaku berlibur ke pulau yang kau benci itu. Belum sempat kami menikmati sun set di Kuta, atau indahnya Tanah Lot, dan kalian telah merenggut semuanya. Bajingan kau Amrozi! Tuhanku mengutukmu.


Tiga anakku mati seketika, aku beserta suami cacat permanen dengan jihad brengsekmu itu! Sementara kau? Hanya di penjara dan dengan tenang meregang nyawa, hanya sepuluh menit mengerang setelah ditembak. Dan dalam keyakinanmu, arwahmu dibawa burung-burung terbang menuju nirwana. Surga yang kau idam-idamkan dengan membunuh keluargaku. Mengahancurkan masa depan ratusan orang. Membuat sedih ratusan keluarga dan menghancurkan penghasilan ratusan orang.

Itu yang kau sebut Jihad? Berteriak Allahuakbar, sambil meluluhlantahkan pekerjaan orang?
Berteriak Lailahailallah sambil meremukkan kepala anak-anakku? Mengancurkan lengan kiri suamiku, membuatku hidup tanpa punya harapan sedikit pun. Itu yang kau sebut Jihad, Bajiangan?!

Kau mati dan dianggap mujahidin oleh golonganmu! Tai kucing itu semua. Aku menganggapmu pahlawan biadab. Karena wajahku yang dulu bisa tersenyum untuk suamiku, kini telah rusak parah gara-gara jihad bodohmu itu. Gara-gara keyakinanmu yang sungguh begitu egois.

Aku juga muslim, sama sepertimu. Mengucap kalimat syahadat, solat lima waktu, percaya pada malaikat dan kitab-kitab langit. Aku naik haji dan memberi makan kaum miskin, berpuasa dan bersyukur kepada Tuhan, sama seperti kau. Lalu, apa salahku? Apa salah suami dan ankku? Saat kau dengan nistanya berteriak Tuhan Maha Besar sambil meledakkan kepala putriku. Membiarkan darah dan otaknya berhaburan kewajaku yang langsung disambut api setelah terpelanting jatuh ke aspal. Kau tidak merasakannya!!!

Tuhanku (Tuhan yang mungkin juga kau akui) pernah bilang, “bagiku agamaku dan bagimu agamamu”. Lalu apa urusanmu dengan orang yang ingin kau bunuh itu? Apa rumahmu sudah bersih? Apa keluargamu sudah taat semua, dan apa kau jauh lebih baik dari mereka yang kau binasakan? Adakah kau tahu itu? Bahwa mereka lebih berdosa dari kamu? Atau kamu merasa dirimu Tuhan?

Kau menjadikan dirimu lebih sombong dari Tuhan. Lebih egois dari ajaran fundamental yang kau yakini. Surga yang kau bayangkan tidak akan pernah kau dapatkan. Aku tetap berdoa pada Tuhan untuk mengekalkanmu di neraka jahannam! Amin.

27 July, 2008

Rumah Merah untuk Negara Sailon




Novel Nasionalis dan Penuh Semangat
RAZONCA “Rumah Merah Kita”

SAILON sebuah Negara kepulauan yang makmur. Kaya raya dan hasil alam yang melimpah. Memiliki pemuda yang berani berkorban untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Di tengah cengkaraman negara tetangga, rejim yang otoriter dan tidak berpihak pada rakyatnya, perlawanan pun muncul dari pemuda-pemuda cerdas dan pemberani. Mereka mendirikan Rumah Merah dan menyusun starategi untuk memulihkan keadaan dan membawa ke arah perubahan.

Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita yang ingin mereka bangun.

Inilah sebuah karya fiksi fantasi yang sangat dekat dengan keseharian kita, keseharian negara kita dan sebagian besar negara dunia ketiga di belahan bumi. Semangat perlawanan, persahabatan serta kisah asmara rahasia berbaur dalam pergelutan umat manusia menuju keadaan yang diidamkan semua orang; kemakmuran.

Novel ini memberi banyak pelajaran bagi pemerintah dan para pemuda untuk menjaga negaranya.

Mari membaca, menyelami berbagai kisah di dalamnya dan tertawa, tersenyum sekaligus menangis. Karena kita menemukan diri kita di dalamnya.

25 May, 2008

ajari aku lagi

kemarilah, ajari aku lagi
menulis masa lalu, masa lalu yang kaku
membinasakan diri dalam naungan puisi

ajari aku lagi
menyurati makna dari kopi-kopi dingin malam ini
bukankah kita telah jauh melanglang malam dari warung- warung
mengeja makna malam untuk kita habiskan bersama langit suram

kitapun disini malam ini
menyusuri bumi menjelang pagi

tolong; ajari aku lagi
menulis puisi

2008

Dongeng kejahatan

Bukankah kita dulu pernah hadir disini
dalam dongeng-dongeng masa lalu.

Bukankah semua dongeng itu seragam; kejahatan kalah oleh kebenaran.
Tapi kenapa kejahatan selalu muncul lagi untuk dikalahkan dalam dongeng berikutnya?

Mei 2008

JOGJA, PAGI DI PEREMPATAN

pagi ini kita bertemu lagi
masih di jalan ini, dengan keseharian yang tak pernah berbeda tapi
kita akan hadapi hari ini dengan berani
bersama warna hijau dan merah ini
nasib ini bukan untuk diratapi
meski kita terlahir sebagi anak tiri negeri salah asuh ini

2008

Empat Penjuru Jalan

Empat penjuru jalan ini adalah kantor kita. Kantor yang tidak mengenal libur. Karena libur berarti mencekik diri dengan lapar. Justru ketika orang libur kita harus menaikkan omset untu kantor sederhana ini. Karyawannya datang dari empat penjuru. Timur, selatan, barat dan utara.

Pagi sekali kita harus sudah berkumpul. Tanpa apel pagi dan absensi, kita harus segera memulai kerja.
Tanpa mesin hitung, tanpa meja dan seragam kembar.

Dan semua orang kelak akan tahu, tangan-tangan inilah yang perkasa membawa berita dari segala penjuru.

Kita adalah karywan dan direktur bagi kantor kita sendiri.
Kantor dengan empat penjuru jalan. Lengkap dengan lampu merah-kuning-hijau.
Dan merah adalah warna yang paling kita sukai.
Pada sebuah perempatan. Yogyakarta, Mei 2008

kita menari liar dalam panas

kita menari liar dalam panas
awan menggumpal
langit perak
tampaknya banyak yang tidak senang dengan gerah

rel kereta digesek keras dan memanas
kaca jendela tergetar
dan kamu membuatku tenggelam dalam keramain dua hayal yang membumbung menuju atap rumah

Yogyakarta, Mei 2008

Kita pernah Jaya

Sakit inilah yang akan membuat kami mengamuk lagi
Kita terlalu dikecewa

Cita-cita kita membentur baja
Dan kita tenggelam dalam telaga sepi yang tidak pernah kita cita-citakan

Kita pernah jaya, mengenangnya bukanlah dosa
Tapi mengulangya, tentu bukan hal yang siasia
Mei 2008