Yogyakarta tidak begitu cerah pagi ini, cuacanya sedikit mendung dan langit tampak ditutupi awan abu-abu di beberapa bagiannya. Aku baru saja sampai ke kota ini lagi, setelah dua tahun lebih aku meninggalkannya. Dulu aku sempat bergelut lama dengan kota ini, hampir lima tahun memakan bangku kuliah di kampus di kota pelajar yang ramah ini. Bus yang aku tumpangi sepertinya tahu betapa rindunya aku dengan kota tujuan ini, kerinduan yang dalam pada suasana, pada budaya, pada malam-malam yang sering aku lewati dan pada perempuannya.
“Halo sayang, kamu dimana sekarang? Aku baru saja sampai di Janti. Jadi kan jemput aku?”
“O o, ya udah kamu tunggu dulu ya di situ, lima menit lagi aku sampai.”
“Oke, hati-hati ya.”
“Oke Bli-ku sayang.”
Aku merapat ke arah kantor agen bus yang aku tumpangi tadi dan duduk di kursi di bawah atap depan kantor. Aku semakin penasaran, bagaimana perempuanku yang telah lama aku tinggalkan. Aku tahu ia begitu menyayangiku. Ia benar-benar perempuan yang bijaksana, selalu mendukung segala langkah hidupku, selain ibu dan saudara-saudaraku ia salah satunya yang membuat hidupku begitu berwarna dan bercorak kebahagian seperti saat ini. Rindu yang terkumpul dua puluh empat bulan lebih akan segera tertumpah sebentar lagi, aku semakin rindu pada keriangannya dan aku semakin ingin segera ia ada di depanku. Aku ingin lagi menikmati wajahnya yang indah dan khas. Ya, khas perempuan Yogya.
“Hey..melamun aja!” Ia mengagetkan aku dengan dorongan tanganya yang khas. Sedikit kasar tapi penuh dengan perasaan yang tidak bisa ia pungkiri. Aku tersenyum dan dengan tanpa sadar tanganku segera membelai rambunya. Tidak ada yang berubah darinya, rambutnya masih diikat di belakang dengan sembarangan, sedikit berantakan. Masih ada setitik tahi lalat di bagian atas hidungnya, tanda lahir bawaannya yang selalu aku ingat dari hawa satu ini. “Ayo ikut aku…di jemput malah ngelamun! Buruan, ibu sudah nunggu tuh di rumah, dia kangen kamu katanya.”
“Ibu apa kamu yang kangen? Hehe…kamu kan?”
“Enak aja, pulang lagi sana. Amit-amit dah kangen sama kamu.”
“Bener? Aku pulang lo!”
“Hehe, pulang ke hatiku maksudnya,” ia tersenyum sedikit manja.
“Haha… dasar! Uh…” aku mendorong kepalanya pelan. Tak lama kemudian kami sudah di atas motornya dan sebentar lagi akan segera sampai rumahnya yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus tadi.
*************
“Ngurah, kapan datang? Mbah lama ndak lihat kamu, kamu pulang sudah dua tahun ndak ada kabar sama sekali.”
“Iya Mbah, maaf, saya baru sampai kemarin pagi, tadi malem nginep di rumahnya Rindu. Kangen sama Mbah, kangen sama rumahya dan masakannya”
“Kalo begitu nanti biar Mbah masak makanan kesukaanmu, kamu nginep di sini kan?”
“Saya sewa hotel saja Mbah, gak enak ngerepotim Mbah”
“Walah-walah, gaya ya sekarang, mentang mentang sudah jadi pengusaha sukses nginepnya di hotel, ndak mau sama si Mbah lagi. Kapan sih kamu ngerepotin Mas? Udah disini wae nginepnya, nanti sewa hotelnya ditabung buat nikahin Mbak Rindu ”
“Ha..ha, Mbah ini bisa aja, ya udah saya nginep disini aja selama di Yogya ya Mbah”
“Ya…Mbah kan juga ndak ada temen”
“La Mbah Lanang mana?”
“Kan udah meninggal, setahun yang lalu. Mbah mau kabarin kamu tapi ndak tahu pakai apa, pakai surat Mbah kan ndak tahu alamatmu apalagi pake telpon, kamu ndak ninggal nomer disini.” Suaranya masih tegas seperti dulu, tapi aku mendengar sepintas suaranya mengandung kesedihan yang dalam. Kesedihan dan kesepian yang begitu dalam.
“O.. maaf ya Mbah…” aku jadi kikuk sendiri. Antara rasa bersalah karena tidah pernah memberinya khabar dan pertanyaanku yang membuat ia sedih. Aku melihat raut wajahnya semakin menua, entah berapa umurnya sekarang. Ketika pertama kali aku datang dan menyewa kamar untuk kost dirumahnya tujuh tahun yang lalu ia mengaku sudah berusia sekitar enam puluh tahun lebih.
Malam itu kami makan berdua, ia bercerita panjang lebar tentang kejadian-kejadian selama aku pulang ke Bali. Tentang anak-anaknya yang menghilang dan tak pernah menjenguknya lagi. Tentang gempa di Yogyakarta, tentang kotanya yang semakin ramai dan semakin banyak mall-mall dan tentang prilaku tetangga setelah suaminya meninggal yang katanya tidak wajar.
************
Pagi ini aku ke rumah pacarku lagi, tadi malam ia menelponku ia bilang ibunya ingin berbicara serius kepadaku hari ini. Aku minta taksi menjemputku di depan gang rumah nenek tempat aku menginap semalam. Sepanjang jalan aku sibuk memperhatikan perubahan wajah kota pelajar yang semakin cepat berubah itu. Jalan-jalan semakin ramai dilalui kendaraan yang hilir-mudik. Para gembel dan pengamen tampaknya semakin banyak di tiap perempatan. Demikian pula hanya dengan komunitas anak punk dengan dandanan yang makin necis semakin banyak mengisi jalanan kota ini. Potret kota budaya dan kota pelajar yang semakin hari semakin berubah. Sekitar dua puluh menit lamanya aku sampai di halaman rumah Rindu yang teduh.
Obrolan kami terasa begitu hangat. Rindu terlihat begitu manja, anak ini seperti begitu butuh kasih sayang seorang lelaki Karena menurut ceritanya, ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan. Aku menjadi merasa sangat bertanggung jawab padanya. Aku tidak mau ia tersakiti oleh tingkah lakuku. Meskipun ia bukan perempuan yang cengeng dan manja, bahkan cenderung tomboy, tapi aku yakin jiwa anak ini tetaplah tidak jauh berbeda dengan perempuan lain pada umumnya.
“Bagaimana Nak Ngurah, kapan ngelamar Rindu? Kalian kan sudah lama pacaran, dan ibu lihat kalian sudah dewasa dan siap menempuh hidup berumah tangga”
“Akh Ibu ini, nanti juga pasti itu. Jangan gitu dong Bu” Rindu menimpali sedikit manja, sambil mencubit ibunya. Tapi aku tahu ia pun sangat mengharapkan aku segera melamarnya. Kami sudah menjalin hubungan lima tahun lebih. Waktu yang tidak sebentar untuk dapat saling mengenal. Mendengar hal itu seolah ada jarum-jarum kecil yang begitu banyak menyerang ke arah kepalaku. Ada banyak hal yang susah aku ceritakan pada mereka. Aku takut kedua perempuan itu akan sakit hati dan tiba-tiba berpandangan buruk padaku. Aku begitu takut menceritakan hal tersebut. Disamping perbedaan agama yang kadang begitu mengahambat bagiku. Kadang aku sering bertanya, kenapa agama dan undang-undang melarang menikah dengan orang yang berbeda agama, padahal semua agama meyakini bahwa cinta itu diciptakan oleh Tuhan juga.
Aku berusaha tidak menampakkan sikap yang aneh agar mereka tidak curiga. Aku coba tersenyaum dan menyembunyikan pikiranku yang kacau.
“Iya Bu, saya pasti lamar Rindu. Tapi kan nggak sekarang Bu, tunggu dulu saya omongkan dengan orang tua di rumah”
“Bukannya orang tua di rumah sudah tahu dan setuju. Dulu kan Rindu pernah ikut pulang ke rumah Nak Ngurah”
“Ya Bu…nanti pulang ini saya persiapkan segalanya baru saya kesini lagi” aku berusaha melegakan hati mereka. Rindu tampaknya begitu gembira. Ia menatap dalam ke mataku. Tatapan yang begitu terasa menusuk sampai dalam otakku. Tatapan yang menakutkan bagiku. Aku merinding sendiri. Ada ketakutan yang begitu dalam yang mengganggu pikiranku. Aku tidak berani…..
Sungguh aku takut….
Ini karena kesalahanku yang bodoh!!
***********
Aku terbangun dari tidurku yang tidak nyenyak. Pagi ini tampaknya tidak begitu cerah, langit Yogyakarta sedikit berawan dan tampaknya akan hujan. Kulangkahkan kaki ke arah pinggir teras atas depan kamar tidur yang aku tumpangi. Masih sepi rupanya, si Mbah belum bangun. Mungkin dia kelelahan, aku semalam melihat ia begitu murung sambil menonton tv di kamar tengah. Kasian sekali dia, anak-anaknya telah jarang dan bahkan tidak pernah lagi menjenguknya. Ia sendiri di usianya yang beranjak tua dan butuh perhatian. Sementara lingkungan begitu mengucilkannya gara-gara kematian suaminya yang aneh. Orang-orang beranggapan suaminya meninggal akibat ilmu pesugihan yang ia jalani. Padahal setahuku suaminya adalah orang yang taat beribadah. Bahkan ia dulunya adalah pemuka masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut ceritan perempuan tua ini, suaminya meninggal akibat keracunan makanan, entah makan apa. Dokter pun telah membenarkan bahwa suaminya meninggal akibat keracunan makanan, namun warga seolah tutup telinga dengan penjelasan itu. Yah…mungkin ini akibat konsumsi tayangan televisi yang begitu kuatnya berlomba menayangkan tayangan yang mengkonstruksi pikiran masyarakat. Entahlah, aku juga tidak begitu mengerti, mungkin tayangan mistis-mistis sedang trend dan menyerap banyak sponsor sehingga stasiun tv berlomba-lomba untuk menyajikan hal tersebut.
Aku menuruni tangga untuk menuju kamar mandi dan bergegas akan ke rumah Rindu lagi. Katanya pagi ini ia akan mengajak aku keliling kota. Singgah di tempat-tempat yang sering kami kunjungi dulu. Makan di tempat makan kesukaan kami sambil mengenang kisah-kisah yang pernah kita lalui dulu waktu aku masih kuliah di Jogja.
Aku penasaran, kenapa sampai jam segini si Mbah belum juga bangun. Arloji di tangan kiriku menunjuk pukul sembilan pagi. Perutku sudah lapar dan ingin sarapan pagi. Dari tadi rindu juga katanya telah siap menungguku. Aku jadi memberanikan diri untuk mengetok pintu kamar nenek tua ini.
“Mbah…bangun Mbah, sudah siang,” belum ada tanggapan. Aku ketuk lebih kencang lagi. “Mbah, sudah siang! Bangun Mbah!” aku ketuk berulang-ulang tetap tidak ada respon. Masa dia tidur senyenyak itu, setahuku ia subuh biasanya bangun dan memulai aktivitasnya. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan ia sakit, atau pingsan. Atau….akh…aku terlalu banyak berhayal. Akhirnya aku coba buka pintunya. Ternyata tidak terkunci, dan ….
Ya Tuhan. Sungguh aku terperanjat bukan main. Darah mengalir dengan segar dari luka pergelangan tangan kirinya, dan sebilah pisau cutter jatuh di lantai belumuran darah pula. Ada apa gerangan. Kenapa nenek ini mengakhiri hidup dengan cara seperti ini. Aku jadi merinding sendiri. Aku bingung dan tidak tahu harus bertindak apa.
Ada sepucuk surat tergeletak di sebelah bantal yang ia tiduri.
“Semua harta warisku aku berikan kepada I Gusti Ngurah Eka Sastrawan” sungguh kaget aku melihatnya. Padahal pisau itu tadi malam aku pinjam untuk mengupas mangga yang ia berikan. Pastinya sidik jariku masih menempel disitu. Akh…ada apa ini. Ada apa dengan kota yang aku datangi ini? Kontan aku berteriak minta tolong dan dalam waktu yang cepat warga sudah menumpuk di sekitarku. Rindu pun datang setelah aku telpon. Dari jauh aku dengar suara sirine mobil polisi terdengar kain mendekat. Aku diam sendiri. Aku masih belum tahu skenario apa yang ditulis Tuhan buatku. Duh Gusti Gusti ada apa ini? Hatiku menjerit sendiri di tengah kerumunan itu. Aku seperti terpisah sendiri dalam kebingungan pribadiku di tengah kerumunan orang-orang yang bertanya-tanaya.
Getar handphone di saku celanaku terasa begitu keras. Ada telpon rupanya. Sedikit mengagetkan dan membuyarkan lamunan kebingunganku.. Aku menyibak barisan kerumunan warga dan menuju pojok ruangan untuk menerima telepon.
“Halo Ma”
“Pa, halo…cepat pulang ke rumah sekarang juga Pa” Suara wanita di telingaku begitu gugup.
“Tenang Ma…ada apa?” aku semakin gelisah ada apa lagi di rumahku.
“Papa segera pulang, anak perempuan kita masuk rumah sakit. Sekarang di ruang ICU Pa,” suara istriku sambil menagis.
Tanganku gemetar. Handphoneku jatuh ke tanah, badanku lunglai rasanya. Ada apa lagi ini, ada apa dengan perempuan-perempuankuku. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku harus segera pulang untuk perempuan-perempuanku di rumah. Sementar tiga perempuan disni telah membuat aku bingung. Bingung dan bingung sekali.
Dari arah kerumunan berjalan ke arahku tiga orang berseragam polisi lengkap ke arahku. Keringat dingin mulai mengucur keluar dari pori-pori tubuhku. Badanku serasa dingin dan lututku bergetar. Apa yang mesti aku katakan pada Rindu dan ibunya?. Lalu bagaimana dengan istri dan anakku? Akh..perempuan perempuan, kalian inginkan apa dariku….
30 September, 2007
10 August, 2007
CERITA SEDERHANA YANG DURHAKA
Malam ini telah mati sedari pagi tadi
Terbunuh cerita pengap yang tak habis-habis! Cerita dari kemarin sore sampai lusa pagi yang mungkin tak habis dalam lolongan malam-mlam yang sama sekali sudah tak perkasa.
Dalam sebuah lakon seorang pembuat berita
Ada penari telanjang berlari dikejar pembunuh di sebuah lorong gelap. Dadanya ditusuk dan kaki tangannya dipotong-potong. Sementara si pembunuh membaca sajak puisi chairil anwar si binatang jalang.
Penyair pun jadi pembunuh malam ini!! Lalu apa yang mesti kau banggakan??
Dia mati tanpa penyesalan dan dia tewas tanpa kabar kematian
Aku mereguk mawar terlalu buta
Hingga aku tak kan pernah tahu apakah kau ikut juga menyalami temaram waktu yang aku kejar dalam perjalanan suntukkku
saat aku harus membunuh gerimis dan melarangnya meresap dalam butiran lempung-lempung tanah jiwaku yang kini telah kau beceki sejak malam sehabis senja kau rangkul pundak rohku yang telah begitu terawang ini.
Aku melihat orang-orang mati sendirian
Terkapar mampus pada sebuah batang rel.
Seperti biasa dikelilingi rumah-rumah kumuh yang suka bergoyang-goyang
Orang-orang disana lebih suka mati sendirian
Karena di kubur pun orang masih enggan berbagi
Ada yang membunuh tuhan dalam lorong jiwanya yang kian kusam
Tuhan dicincang
Dimutilasi dan dimasukkan ke karung dan dibuang di tong sampah
Mungkin biar gak ketauan polisi
Karena tuhan telah divonis membanatai anak istrinya
Disebuah hujan malam-malam
Dan tuhan telah mencabut nyawa mereka dengan mengambil beras dan air minumnya!!
Lorong senja telah menggiring malam-malam buta menjadi malam penuh kebisingan dan teriakan mampus yang percuma
Kamu mengembara melintasi penat kacau yang juga percuma
Dan semua mampus pula dalam dengung-dengung bingung yang tak mengerti apa-apa!!
Ini cerita luar biasa
Yang telah berulang satu juta kali
Sejak peradaban belum ada sampai peradaban sirna dan tak akan terlahir kembali
Ini cerita tua
Cerita kuno dan cerita yang paling durhaka
Semua penulis menulisnya
Semua pemain teater mementaskannya
Semua manusia melakukannya
Semua orang pula yang mengumpatnya!!!
Ada tangan-tangn gemetar yang ingin merangkul pundak-pundak yang kian gemetar pula
Ada kabar menakutkan dari sungai yang keruh dan meluap
Dari laut yang beriak dan tertawa garang
Dari kobaran angin yang semakin brisik dan tak tak mengerti arti sebuah rangkulan
Ada kabar pilu dari dasar lembah yang tak dalam tapi taki dangkal…
Semua membabi-membuta
Semua wajah menjadi poranda dengan senyum pahit yang diberi gula-gula imitasi
Masih ada saja yang tertidur dan menyusun teka-teki sendiri yang sama sekali tak menarik diceritakan dan dikenangkan
Sementara aku hanya menunggu bendera putih benderang berkibar d puncak tursina
Puncak tursina
Sambil mengenang dan sedikit mengharapkan kemenangan yang pernah dikabarkan oleh Musa!!
Bajang 2007
Terbunuh cerita pengap yang tak habis-habis! Cerita dari kemarin sore sampai lusa pagi yang mungkin tak habis dalam lolongan malam-mlam yang sama sekali sudah tak perkasa.
Dalam sebuah lakon seorang pembuat berita
Ada penari telanjang berlari dikejar pembunuh di sebuah lorong gelap. Dadanya ditusuk dan kaki tangannya dipotong-potong. Sementara si pembunuh membaca sajak puisi chairil anwar si binatang jalang.
Penyair pun jadi pembunuh malam ini!! Lalu apa yang mesti kau banggakan??
Dia mati tanpa penyesalan dan dia tewas tanpa kabar kematian
Aku mereguk mawar terlalu buta
Hingga aku tak kan pernah tahu apakah kau ikut juga menyalami temaram waktu yang aku kejar dalam perjalanan suntukkku
saat aku harus membunuh gerimis dan melarangnya meresap dalam butiran lempung-lempung tanah jiwaku yang kini telah kau beceki sejak malam sehabis senja kau rangkul pundak rohku yang telah begitu terawang ini.
Aku melihat orang-orang mati sendirian
Terkapar mampus pada sebuah batang rel.
Seperti biasa dikelilingi rumah-rumah kumuh yang suka bergoyang-goyang
Orang-orang disana lebih suka mati sendirian
Karena di kubur pun orang masih enggan berbagi
Ada yang membunuh tuhan dalam lorong jiwanya yang kian kusam
Tuhan dicincang
Dimutilasi dan dimasukkan ke karung dan dibuang di tong sampah
Mungkin biar gak ketauan polisi
Karena tuhan telah divonis membanatai anak istrinya
Disebuah hujan malam-malam
Dan tuhan telah mencabut nyawa mereka dengan mengambil beras dan air minumnya!!
Lorong senja telah menggiring malam-malam buta menjadi malam penuh kebisingan dan teriakan mampus yang percuma
Kamu mengembara melintasi penat kacau yang juga percuma
Dan semua mampus pula dalam dengung-dengung bingung yang tak mengerti apa-apa!!
Ini cerita luar biasa
Yang telah berulang satu juta kali
Sejak peradaban belum ada sampai peradaban sirna dan tak akan terlahir kembali
Ini cerita tua
Cerita kuno dan cerita yang paling durhaka
Semua penulis menulisnya
Semua pemain teater mementaskannya
Semua manusia melakukannya
Semua orang pula yang mengumpatnya!!!
Ada tangan-tangn gemetar yang ingin merangkul pundak-pundak yang kian gemetar pula
Ada kabar menakutkan dari sungai yang keruh dan meluap
Dari laut yang beriak dan tertawa garang
Dari kobaran angin yang semakin brisik dan tak tak mengerti arti sebuah rangkulan
Ada kabar pilu dari dasar lembah yang tak dalam tapi taki dangkal…
Semua membabi-membuta
Semua wajah menjadi poranda dengan senyum pahit yang diberi gula-gula imitasi
Masih ada saja yang tertidur dan menyusun teka-teki sendiri yang sama sekali tak menarik diceritakan dan dikenangkan
Sementara aku hanya menunggu bendera putih benderang berkibar d puncak tursina
Puncak tursina
Sambil mengenang dan sedikit mengharapkan kemenangan yang pernah dikabarkan oleh Musa!!
Bajang 2007
Lenguhan temaram, saat malam begitu membuta
aku membunuh rasaku begitu menggila.
Tanpa mau harus mereguk segala apa yang pernah aku asingkan
Aku mereguk mawar terlalu buta
Hingga aku tak kan pernah tahu apakah kau ikut juga menyalami temaram waktu yang aku kejar dalam perjalanan suntukan saat aku harus membunuh gerimis dan melarangnya meresap dalam butiran lempung-lempung tanah jiwaku yang kini telah kau beceki sejak malam sehabis senja kau rangkul pundak rohku yang telah begitu terawang ini.
Wah aku begitu senyap meresapi sebuah regukan yang kau suguhkan
Meski aku tahu mungkin tak sengaja pula aku harus menghisapnya.
Aku begitu berani,mencoba bersandar di tiang pada sebuah rumah dengan daun pintu yang begitu rapuh tua. Mungkin saja pagi lusa, saat temaram senja mulai menggelanyut berlalu aku ingin coba bisikkan teriakan-teriakan yang telah terkonstruksi begitu dalamnya.
Tapi sayang. Mantraku ini tidak begitu ampuh mengikat roh kita yang ingin selalu bergentayangan melewati pucuk-pucuk terowongan langit yang begitu senyap sejak kemarin malam.
Hah..
Apa kau tahu…hai betina kejam yang baik hati. Malam ini begitu sepinya
tanpa kolong langit saja rasanya.
Fuih…
Apalagi lagu ini
Seredup sorot lampu merkuri, saat hati begitu mesum memasuki lorong-lorong hatinya sendiri. Mengobrak-abrik kelelakian dan keperjakaan serta keegoisan dan kemunafikan yang sama sekali tidak pernah aku kubur mesti harus meneguk batu-batu hitam racun yang meregang maut dalam usus-ususku yang begitu lapar.
Yah..
Hari ini.
Sebuah goresan dua pengantin yang menimang bayinya telah hadir. Ia teriak menyelesaikan tangisan dalam hisapan air susu asing yang ia reguk dalam kebingungan bersama rengekannya.
Aku menjadi begitu telaten untuk tetap merenung dan memahat sebuah patung yang sama sekali belum ku imaji sebelumnya. Dan menjadi berhala-berhala aneh yang tak pula aku kenal rupa dan namanya.
Apa memang selalu begitu terulang. Aku harus terkapar setelah mereguk mawar-mawar yang telah di anugrahkan si ibu angin. Ibu dingin yang memporak-porandakan senyap dalam lenguhan malam yang makin mengental saja.
Kritik dan saran, silakan hubungi : Irwan Bajang Firmansyah, seorang penyair amatiran,081927595022 atau email irwan_bajang@yahoo.com.
Tanpa mau harus mereguk segala apa yang pernah aku asingkan
Aku mereguk mawar terlalu buta
Hingga aku tak kan pernah tahu apakah kau ikut juga menyalami temaram waktu yang aku kejar dalam perjalanan suntukan saat aku harus membunuh gerimis dan melarangnya meresap dalam butiran lempung-lempung tanah jiwaku yang kini telah kau beceki sejak malam sehabis senja kau rangkul pundak rohku yang telah begitu terawang ini.
Wah aku begitu senyap meresapi sebuah regukan yang kau suguhkan
Meski aku tahu mungkin tak sengaja pula aku harus menghisapnya.
Aku begitu berani,mencoba bersandar di tiang pada sebuah rumah dengan daun pintu yang begitu rapuh tua. Mungkin saja pagi lusa, saat temaram senja mulai menggelanyut berlalu aku ingin coba bisikkan teriakan-teriakan yang telah terkonstruksi begitu dalamnya.
Tapi sayang. Mantraku ini tidak begitu ampuh mengikat roh kita yang ingin selalu bergentayangan melewati pucuk-pucuk terowongan langit yang begitu senyap sejak kemarin malam.
Hah..
Apa kau tahu…hai betina kejam yang baik hati. Malam ini begitu sepinya
tanpa kolong langit saja rasanya.
Fuih…
Apalagi lagu ini
Seredup sorot lampu merkuri, saat hati begitu mesum memasuki lorong-lorong hatinya sendiri. Mengobrak-abrik kelelakian dan keperjakaan serta keegoisan dan kemunafikan yang sama sekali tidak pernah aku kubur mesti harus meneguk batu-batu hitam racun yang meregang maut dalam usus-ususku yang begitu lapar.
Yah..
Hari ini.
Sebuah goresan dua pengantin yang menimang bayinya telah hadir. Ia teriak menyelesaikan tangisan dalam hisapan air susu asing yang ia reguk dalam kebingungan bersama rengekannya.
Aku menjadi begitu telaten untuk tetap merenung dan memahat sebuah patung yang sama sekali belum ku imaji sebelumnya. Dan menjadi berhala-berhala aneh yang tak pula aku kenal rupa dan namanya.
Apa memang selalu begitu terulang. Aku harus terkapar setelah mereguk mawar-mawar yang telah di anugrahkan si ibu angin. Ibu dingin yang memporak-porandakan senyap dalam lenguhan malam yang makin mengental saja.
Kritik dan saran, silakan hubungi : Irwan Bajang Firmansyah, seorang penyair amatiran,081927595022 atau email irwan_bajang@yahoo.com.
baca saja
CERITA YANG MENYEBALKAN DARI SEORANG PENYAIR USIL
(ditulis di kamar hitam. sebuah sore sehari setelah hari HAM 06)
Ini hari
Kembali tertoreh goresan yang seharusnya malas aku sebut…
Selalu saja tentang hal ini
Tentang luka anakanak kecil yang tak sembuhsembuh dan menangis di tiap malam yang menganga KESAKITANKESAKITAN.
CERITA INI LAGI… lagi
lagi dan
lagi
Bosan aku menceritakannya…
!@#$%^&*()....
Akh…
Apa ya aku bosan?!
Tapi kenapa aku harus gelisah jika tidak menceritakannya.
Cerita seorang ayah yang merapuh melebihi amabang batas usianya
Cerita ibu yang hampir punah sabarnya karena lelah hari yang tak tertuntaskan. Cerita pagi perawan yang telah dipecah teriakan nyaring dari neraka derita yang paling dalam dari bisiskanbisikan perempatan jalan yang semakin redup saja oleh panas yang sengaja dibuat sang raja tanah di kota bisu tua renta ini.
Brengsek
ia menuding dengan telunjuk besarnya ke arahku.
Aku jadi terpojok.
Aku ini binatang jalang ( begitu kata Chairil si mata merah)
Akh..
Jalangsejalangjalangnya
Cerita ini……….cerita ini
Cerita buta yang tak paham keindahan
Keindahan hari keindahansenja. Apalagi keindahan langit batu karang dan sungai(seperti yang disebut anak itu)
Hmmm
Tidak ada doa yang bisa dikabulkan lagi mungkin.
Tidak ada sihir yang mempan lagi
Dan tidak ada kecup yang menggetarkan lagi
Bahkan ratapan sore ini saja tak da yang mendengar!!
Hah…
Penyair
Penyair..
Apa sih yang sedang kamu tulis.
Kamu sekali kali bukanlah penyair
Dasar manusia usil…
(ditulis di kamar hitam. sebuah sore sehari setelah hari HAM 06)
Ini hari
Kembali tertoreh goresan yang seharusnya malas aku sebut…
Selalu saja tentang hal ini
Tentang luka anakanak kecil yang tak sembuhsembuh dan menangis di tiap malam yang menganga KESAKITANKESAKITAN.
CERITA INI LAGI… lagi
lagi dan
lagi
Bosan aku menceritakannya…
!@#$%^&*()....
Akh…
Apa ya aku bosan?!
Tapi kenapa aku harus gelisah jika tidak menceritakannya.
Cerita seorang ayah yang merapuh melebihi amabang batas usianya
Cerita ibu yang hampir punah sabarnya karena lelah hari yang tak tertuntaskan. Cerita pagi perawan yang telah dipecah teriakan nyaring dari neraka derita yang paling dalam dari bisiskanbisikan perempatan jalan yang semakin redup saja oleh panas yang sengaja dibuat sang raja tanah di kota bisu tua renta ini.
Brengsek
ia menuding dengan telunjuk besarnya ke arahku.
Aku jadi terpojok.
Aku ini binatang jalang ( begitu kata Chairil si mata merah)
Akh..
Jalangsejalangjalangnya
Cerita ini……….cerita ini
Cerita buta yang tak paham keindahan
Keindahan hari keindahansenja. Apalagi keindahan langit batu karang dan sungai(seperti yang disebut anak itu)
Hmmm
Tidak ada doa yang bisa dikabulkan lagi mungkin.
Tidak ada sihir yang mempan lagi
Dan tidak ada kecup yang menggetarkan lagi
Bahkan ratapan sore ini saja tak da yang mendengar!!
Hah…
Penyair
Penyair..
Apa sih yang sedang kamu tulis.
Kamu sekali kali bukanlah penyair
Dasar manusia usil…
17 June, 2007
kamu juga pasti ada di dalamnya
pernah coba berteriak pada telinga sendiri. yang mulai tak peka lagi pada sebuah bisikan Jibril yang kerap menyapa. lalu apa aku harus kata. sebuah kata hanya mampu bergeliat dalam luka. sebuah mantra kehilangan magis sang empunya. coba saja. sekali datang pada sebuah senja. ketika bukit-bukit temaram merobek sebuah ketakutan, ketika darah mulai meleleh pada satu tikaman, ketika jerit jangkrik tak terbendung oleh rangkulan kesabaran coba melawan, ah.. aku pun mulai capek enggan. menghampiri pagi saja kini aku kesiangan. Aku hanya seorang penyair amatiran. berbohong terus lewat puisi basi dan mencoba jujur lewat larik-larik usang lalu apa yang mesti dibanggakan.
Tentang Saya
Ketika kelas 4 SD dulu, seorang guru memuji saya, setelah mendapat tugas membuat karangan bebas. Katanya tulisan saya seperti anak SMA. Waktu itu saya bangga setengah mati, dan sejak saat itu, saya langsung bercita-cita kelak ingin menjadi penulis. Sebuah cita-cita aneh untuk anak sekecil saya saat itu dan mimpi aneh bagi manusia yang tinggal di negara ini, di tengah situasi budaya menulis yang sungguh tak bisa dibilang baik. Sejak saat itulah saya menulis, baik sembunyi-sembunyi menulis surat cinta, juga puisi dan cerpen, dan tulisan-tulisan iseng apa saja yang melintas di kepala saya.
Ketika akan berangkat ke Jogja, saya sempat berjanji pada diri saya sendiri, bahwa setidaknya dalam jeda waktu dua tahun, saya harus sudah punya buku, menjadi penulis, dan diakui sebagi penulis . Mungkin saya adalah termasuk orang yang beruntung, sebab mimpi saya waktu itu benar tercapai, di tahun kedua saya di Jogja, saya sudah punya novel pertama. Bahkan jauh sebelumnya, saya pernah menerbitkan kumpulan puisi tunggal saya pertama kali, meskipun lewat jalur indie, tapi saya sangat bangga.
Saya terus saja menulis, sesekali malas, sesekali fakum dan sesekali libur panjang juga untuk menulis, tapi toh, menulis terus saja saya lakoni dan saya selalu percaya bahwa saya terlahir sebagai orang yang ditugaskan menulis. Entah apa posisi saya, penyair, novelis, cerpenis, editor, wartawan, atau bahkan penerbit, yang jelas, saya selalu yakin, bahwa menulis, buku, dan dunia di antara dua hal tersebut, adalah dunia yang selalu membuat saya nyaman dan merasa benar-benar sebagai manusia hidup. Mungkin pendapat saya itu sangat berlebihan, tapi biarlah, sesekali saya memang terlalu suka melebih-lebihkan masalah.
Sekarang saya masih tetap menulis, bahkan saya sudah bercita-cita membantu para penulis untuk bermimpi, meraih cita-citanya sebagai penulis dan melakukan banyak hal dengan menulis. Saya membangun Indie Book Corner (IBC), sebuah penerbit indiependent di tahun 2009. Kelak, saya ingin IBC ini menjdi cikal-bakal penerbitan besar yang menampung beragam jenis tulisan, beragam macam penulis dan menjadi garda depan dunia menulis dan perbukuan Indonesia. Hahaha... Saya terlalu berlebihan barangkali, tapi biarlah. Saya sudah sebutkan di atas, kalau saya suka berlebihan.
Saat ini, saya hanya ingin terus menulis, berkomunitas, berteman dengan banyak orang, menerbitkan buku, mengajak orang membaca, menulis, membuat koran, majalah, buletin, famplet, koran tempel dan segala macam media, termasuk milis, blog, portal dan sebagainya. Saya ingin menulis, terus saja menulis, sampai kelak saya tidak bisa dan tidak mau lagi menulis.
O, ya. Saya jadi lupa memperkenalkan diri. Saya lahir di Lombok, sebuah pulau nan indah di NTB. Saya suka sekali jalan-jalan. Saya lebih senang memilih jalur lambat, dengan bis, kereta atau kapal, saya selalu menikmati keindahan dan situasi asing di perjalanan. Saya suka bergerak lambat dan meresapi setiap jejak perjalanan. Meskipun saya selalu bermasalah dengan pencernaan, saya selalu saja suka makanan yang pedas, saya selalu yakin, bahwa saya bisa memakan sambel apapun yang terpedas di dunia ini. Saya pembenci makanan manis, kalau kue manis, tidak masalah, tapi kalau sambel atau lauk manis, slera makan saya langsng down, dan tiba-tiba, saya bisa jadi pemarah dan malas makan. Tempat paforit saya adalah kamar saya sendiri. Saya bisa berada di kamar berhari-hari, tanpa harus pergi ke tempat lain. Kalau sudah begini saya akan malas beranjak, kecuali untuk makan dan hal mendesak lainnya. Kamar adalah ranah paling prifasi bagi saya, dan saya sebenarnya tidak suka membiarkan orang lain berlama-lama di kamar saya.
Dalam diri saya, ada sebuah mimpi yang selalu menjadi obsesi saya. Saya selalu yakin kelak saya bisa memenuhinya. Karena saya suka lagu rock dan lagu-lagu dengan hentakan ritmis yang cepat dan keras, saya selalu punya obsesi dan percaya, kelak saya akan berada di atas panggung, entah sebagai vocalis atau gitaris sebuah band rock terkenal. Hehehe.
Ketika akan berangkat ke Jogja, saya sempat berjanji pada diri saya sendiri, bahwa setidaknya dalam jeda waktu dua tahun, saya harus sudah punya buku, menjadi penulis, dan diakui sebagi penulis . Mungkin saya adalah termasuk orang yang beruntung, sebab mimpi saya waktu itu benar tercapai, di tahun kedua saya di Jogja, saya sudah punya novel pertama. Bahkan jauh sebelumnya, saya pernah menerbitkan kumpulan puisi tunggal saya pertama kali, meskipun lewat jalur indie, tapi saya sangat bangga.
Saya terus saja menulis, sesekali malas, sesekali fakum dan sesekali libur panjang juga untuk menulis, tapi toh, menulis terus saja saya lakoni dan saya selalu percaya bahwa saya terlahir sebagai orang yang ditugaskan menulis. Entah apa posisi saya, penyair, novelis, cerpenis, editor, wartawan, atau bahkan penerbit, yang jelas, saya selalu yakin, bahwa menulis, buku, dan dunia di antara dua hal tersebut, adalah dunia yang selalu membuat saya nyaman dan merasa benar-benar sebagai manusia hidup. Mungkin pendapat saya itu sangat berlebihan, tapi biarlah, sesekali saya memang terlalu suka melebih-lebihkan masalah.
Sekarang saya masih tetap menulis, bahkan saya sudah bercita-cita membantu para penulis untuk bermimpi, meraih cita-citanya sebagai penulis dan melakukan banyak hal dengan menulis. Saya membangun Indie Book Corner (IBC), sebuah penerbit indiependent di tahun 2009. Kelak, saya ingin IBC ini menjdi cikal-bakal penerbitan besar yang menampung beragam jenis tulisan, beragam macam penulis dan menjadi garda depan dunia menulis dan perbukuan Indonesia. Hahaha... Saya terlalu berlebihan barangkali, tapi biarlah. Saya sudah sebutkan di atas, kalau saya suka berlebihan.
Saat ini, saya hanya ingin terus menulis, berkomunitas, berteman dengan banyak orang, menerbitkan buku, mengajak orang membaca, menulis, membuat koran, majalah, buletin, famplet, koran tempel dan segala macam media, termasuk milis, blog, portal dan sebagainya. Saya ingin menulis, terus saja menulis, sampai kelak saya tidak bisa dan tidak mau lagi menulis.
O, ya. Saya jadi lupa memperkenalkan diri. Saya lahir di Lombok, sebuah pulau nan indah di NTB. Saya suka sekali jalan-jalan. Saya lebih senang memilih jalur lambat, dengan bis, kereta atau kapal, saya selalu menikmati keindahan dan situasi asing di perjalanan. Saya suka bergerak lambat dan meresapi setiap jejak perjalanan. Meskipun saya selalu bermasalah dengan pencernaan, saya selalu saja suka makanan yang pedas, saya selalu yakin, bahwa saya bisa memakan sambel apapun yang terpedas di dunia ini. Saya pembenci makanan manis, kalau kue manis, tidak masalah, tapi kalau sambel atau lauk manis, slera makan saya langsng down, dan tiba-tiba, saya bisa jadi pemarah dan malas makan. Tempat paforit saya adalah kamar saya sendiri. Saya bisa berada di kamar berhari-hari, tanpa harus pergi ke tempat lain. Kalau sudah begini saya akan malas beranjak, kecuali untuk makan dan hal mendesak lainnya. Kamar adalah ranah paling prifasi bagi saya, dan saya sebenarnya tidak suka membiarkan orang lain berlama-lama di kamar saya.
Dalam diri saya, ada sebuah mimpi yang selalu menjadi obsesi saya. Saya selalu yakin kelak saya bisa memenuhinya. Karena saya suka lagu rock dan lagu-lagu dengan hentakan ritmis yang cepat dan keras, saya selalu punya obsesi dan percaya, kelak saya akan berada di atas panggung, entah sebagai vocalis atau gitaris sebuah band rock terkenal. Hehehe.
Subscribe to:
Posts (Atom)