12 April, 2010
Ritual Kesehatan: Sehat yang Indah
29 March, 2010
Mata Uang Bernama Permen
Pernahkah kamu dapat kembalian permen ketika habis belanja di toko, supermarket atau tempat belanja lainnya? Saya rasa, Hampir semua dari kita tentu saja pernah merasakan hal itu. Bagaimana perasaan kamu? Keberatan, marah, bingung, sebel, kesal, dongkol, atu biasa aja? Sebagian mungkin menganggap ini adalah hal biasa. Apa artinya sih uang hanya seratus, dua ratus atau lima ratus perak, toh kalau dibelanjakanm juga tidak bisa buat beli apa-apa! Barangkali banyak yang berpikir begitu. Tapi, sadarkah kita, jika sebenarnya kembalian dengan permen itu bukan hanya sekadar melanggar tata niaga, bahwa uang secara definitif berarti alat pembayaran yang telah disepakati, tapi secara tidak langsung pemilik supermarket telah mengeruk banyak untung dari hal tersebut dan konsumen atau pembeli telah dirugikan secara sepihak?
Mari kita hitung secara matematis.
Misalkan satu pack permen dengan isi dua lusin (24 bungkus) permen harganya Rp. 3 500,- maka harga permen satuannya adalah RP, 145, 9,-.
Itu artinya, jika saja permen tersebut disepakati sebagai alat pembayaran, maka harga mata uang permen tersebut adalah senilai Rp. 145, 9,-.
Nah, apa jadinya kalau kembalian kita sebanyak Rp. 200, atau Rp. 500 dikembalikan dengan permen? Bukankah 145, 9 adalah bilangan ganjil berkoma yang tak akan habis jika membagi bilangan 100 dan kelipatannya? Tentu saja konsumen akan rugi. Apalagi banyak kasir sebuah toko atau tempat perbelanjaan lainnya membulatkan permen seharga sekian menjadi Rp. 200,- atau ada juga yang menghitung 3 permen = Rp. 500,- Maka akan kacu jadinya. Selisih harga kurs Rupiah dan kurs mata uang permen tercecer di mana-mana.
Kalau 1 bungkus permen sama dengan Rp. 200,- maka 24 permen tadi akan menjadi Rp. 4800. Artinya, ada selisih keuntungan 1300 bagi si pemberi kembalian (penjual, pemilih toko, yang diwakili oleh kasirnya). Tentu saja menurut saya ini tidak fair, sebab bagaimanapun, kita tidak sedang bertransaksi membeli permen, tapi kita sedang meminta kembalian. Kalau berjualan, memperoleh untung dari selisih harga jual dan beli, itu lain soal lagi, itu sah-sah saja.
Bayangkan kalau kejadian ini terus saja berlanjut. Dalam setahun, dengan sekian kali belanja dan dapat kembalian permen, sudah berapa rupiah kita sebagai konsumen rugi? dan sudah berapa rupiah transaksi tidak sah yang diambil oleh penjual pada pembeli dari selisih mata uang permen itu dengan mata uang rupiah yang kita ambil sehari-hari?
Fenomena ini adalah hal sepele, tapi jika dibiarkan begitu saja, menurut saya situasi perdagangan bisa saja rumit, aneh dan tidak fair. Ini bukan masalah pelit, teliti, tidak ihlas, atau apalah namanya, tapi bagi saya ini menyangkut masalah kesepakatan, etika dan kedisiplinan. Banyak supermarket, yang sebab malas mencari uang receh pecahan seratus, limaratus dan lain sebagainya menggunakan jalan pintas ini. Entah memang karena malas mencari receh, atau ada motif pengambilan untung di belakangnya. Yang jelas, konsumen selalu saja sebagai korban dan menanggung kerugian.
Bukankah banyak pembeli yang belum sepakat, bahkan keberatan dan merasa dirugikan dengan penggunaan permen sebagai kembalian? Lalu, apakah kita akan diam saja. Atau, apa yang akan kita lakukan? Hmmmm. Saya mungkin akan memulai menolak mata uang permen ketika nanti hal itu terjadi (lagi) kepada saya saat membayar di kasir.
:D
21 March, 2010
Obama Anak Menteng? So What Gitu Loh!
Obama anak Menteng dan pernah sekolah di SD Menteng Dalam (Besuki). Terus kenapa memangnya?!
Saya sebenarnya sudah lama sekali menghindarkan diri untuk menulis tulisan semacam ini: Tulisan tentang Obama, seorang presiden Amerika Serikat yang pernah sekolah dan tinggal di Indonesia. Namun, saya lama-kelamaan semakin jengah dengan sikap banyak orang yang terlalu berlebihan dan norak dalam menyikapi hal ini. Ada yang mebuat tugu untuknya, mendirikan tugu si Obama Kecil yang membawa burung merpati sebagai simbol perdamaian, ada lagi yang menulis novel tentang kisah hidup Obama kecil sewaktu di SD Menteng Dalam dan akan mempersembahkannya buat Obama saat datang nanti di Indonesia. Bahkan ada yang katanya telah menciptakan lagu untuk Obama, "Bocah kecil lucu, dulu ada di sini, Barack Obama", begitu kira-kira liriknya. Astaga, apa-apaan ini?
15 March, 2010
Apa khabar blogku sayang?
Apa khabar blogku sayang? Apa khabar juga kawan-kawan blogerku yang baik hati, rajin berbagi, rajin berkunjung, rajin komentar dan rajin sekali pada up date? Lama sekali rasanya tidak posting. Saya hitung-hitung sudah satu bulan. Posting terakhir saya kalau tidak salah pertengahan Februari. Duh.
Bukan apa-apa sih nggak posting, tapi saya merasa agak berhutang saja. Hehehe. Berhutang pada siapa? hmmm... mungkin pembaca blog saya tidak banyak-banyak amat, apalagi punya pembaca fanatik, saya rasa tidak, kecuali beberapa kawan yang memang selalu hadir berkunjung dan bertegur sapa. Namun, saya merasa berhutang budi sama diri saya sendiri. Hehehe.
Bagi saya, blog ini sudah semacam majalah rutin mingguan, yang harus saya penuhi deadline-nya. Entah memposting apa saja, yang penting posting. Saya tiba-tiba merasa berhutang pada diri saya sendiri dan ingin membayarnya segera.
Sebenarnya saya masih rutin menulis seperti biasa, hanya saja, saya tidak mempublikasikannya di blog selama satu bulan belakangan ini. Selain karena pulsa modem yang belum saya isi, saya hanya sedang tidak terlalu ingin menyentuh internet selama sebulan kemarin. Praktis, banyak khabar, informasi dan berita yang hilang, terutama dari kawan-kawan di dunia maya. Tapi toh saya mengimbanginya dengan membaca koran dan berita lainnya.
Baiklah, saya sebenarnya nggak punya tujuan apa-apa untuk menulis ini. Mungkin hanya ingin say hallo lagi buat kawan-kawan pembaca blog saya. Hehehehe...mari menulis lagi dan meramaikan blog kita lagi, kawan.
Semangat!!!
Buku Buku Saya
20 February, 2010
Pasar Sekaten
Di malam gerah
ratusan wajah asing nan gembira
berkeringat di depan kita
anak-anak kecil bermain, ada yang masuk balon udara di atas air
ada yang naik kereta, naik komidi putar, juga belanja gula-gula
sebagian merengek minta boneka, pita rambut, mobil-mobilan
Betapa senang wajah mereka
aku jadi ingat masa kecilku
merengek minta ke pasar malam pada ayah ibu
minta gula-gula, mobil-mobilan, juga minta dompet untuk kuisi uang tabunganku yang tak seberapa
Aku jadi geli sendiri
Aku menyaksikan wajah asing beberapa ayah
yang tampak bingung dan ragu membayar mainan untuk anaknya
kulihat salah satunya ragu merogoh saku celana kainnya
aku menebak-nebak
:kerja apa ayah itu
Sampai kuintip punggungnya
Tak tertulis apa-apa, selain nomor partai dan di dada bajunya
ada seorang bersisir rapi
Si SBY rupanya.
Solo, 13 Februari 2010
Gambar dari sini
ratusan wajah asing nan gembira
berkeringat di depan kita
anak-anak kecil bermain, ada yang masuk balon udara di atas air
ada yang naik kereta, naik komidi putar, juga belanja gula-gula
sebagian merengek minta boneka, pita rambut, mobil-mobilan
Betapa senang wajah mereka
aku jadi ingat masa kecilku
merengek minta ke pasar malam pada ayah ibu
minta gula-gula, mobil-mobilan, juga minta dompet untuk kuisi uang tabunganku yang tak seberapa
Aku jadi geli sendiri
Aku menyaksikan wajah asing beberapa ayah
yang tampak bingung dan ragu membayar mainan untuk anaknya
kulihat salah satunya ragu merogoh saku celana kainnya
aku menebak-nebak
:kerja apa ayah itu
Sampai kuintip punggungnya
Tak tertulis apa-apa, selain nomor partai dan di dada bajunya
ada seorang bersisir rapi
Si SBY rupanya.
Solo, 13 Februari 2010
Gambar dari sini
30 January, 2010
MENUJU LAUT
Sesaat sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu, aku menulis surat ini semoga kelak bisa kau baca sendiri.
Hey! Aku telah berkemas untuk berangkat menuju laut. Jadi, setelah berpamitan denganmu, aku langsung menuju laut. Maka ketika kau baca surat ini, anggaplah aku sekarang telah berada di laut, selamat sampai tujuan, merantau sendiri menjauhi segala keriuhan, dan bergabung dengan mereka yang mengasingkan diri di sini. Saat kau baca surat ini, mungkin aku sedang menyelidiki, adakah manusia di bawah laut. Adakah mereka juga seperti aku, penat di atas dan mencebur berenang menuju laut.
Kutulis surat ini hanya untukmu, aku tak pernah punya teman untuk bercerita, makanya aku teringat kebiasaan unik kita sejak dahulu, menulis untuk saling berbagi cerita.
Tahukah kau, konon di sini tidak pernah ada panas dan hujan. Sehari-hari tidak ada cuaca dan konon tidak pernah ada iklim. Setiap hari di sini teduh dan damai. Meskipun di sini juga ramai seperti di atas dunia sana, tempat dulu kita saling beradu senyum dan meneriakkan tawa.
Bayangkan saja aku kini bersirip, mempunyai insang dan bisa bernapas sambil berenang di laut. Asyikkan? Tentu saja. Banyak terumbu karang, ikan-ikan manis nan cantik dan beraneka ragam. Mereka berkelompok dan tak pernah sendirian, makan bersama, berebut berkejaran. Mereka akan pulang jika sudah kenyang dan waktunya bersembunyi, menyelip di celah-celah karang. Tentu saja mereka tidak terluka, sebab tubuh mereka begitu lihai memasuki celah sempit karang-karang itu. Bayangkanlah, aku ikut bersama grombolan itu.
Sayang, jika aku selamat dalam perjalan, aku telah berada di bawah laut sekarang. Baiklah, jangan pernah sesali, sayang. Karena aku juga tak pernah menyesal untuk menjauh darimu. Salam manis selalu dariku.
Jogjakarta, Juli 2009-Januari 2010
Gambar diambil dari sini
27 January, 2010
CUEK
“Mari kita tandatangani persetujuan ini.”
“Persetujuan apaan?”
“Pengurangan gas emisi karbon.”
“Untuk apa?”
“Ya, untuk mengurangi polusi, lah!”
“Polusi?”
“Jangan pura-pura tidak tahu, kau merasakannya sendiri, kan?”
“Lalu, apa hubungannya dengan tanda tangan?”
“Karena kita telah berbuat bayak kerusakan!”
“Kerusakan apaan maksudmu? Jangan hiperbolis dan mengada-ngadalah!”
“Ya itu! Kamu banyak memberi polusi ke udara kita bersama.”
“Lah, itu kan buat memakmurkan rakyatku!”
“Tapi rakyat negara lain semakin tidak makmur, alias terkena imbas pembangunan industrimu yang berlebihan! Udara jadi makin panas, hutan gundul dan wabah penyakit semakin banyak. Kutub semakin sempit dan keseimbangan dunia terancam!”
“Bodo amat, aku hanya mau makmur!”
“Kami juga mau makmur!”
“Ya sudah, ngapain saling urus? Kita punya jalan masing-masing, kan?”
“ Karena kau bagian dari kami, bego!”
“Sejak kapan? “
“…”
“Kapan?”
“Ya, sejak kita muncul dengan identitas masing-masing di bumi ini! Karena kita hidup berdampingan!”
“Akh, persetan!”
“Huh, dasar negara sok besar, maunya menang sendiri.”
“Dasar negara miskin, sok mengurus segala hal dan cemburu!”
***
Lalu si negara-negara industri besar walk out dari kongres, dan polusi semakin merajalela akibat tingkahnya; cerobong asap yang tak berhenti mengepul.
Oh, betapa kau tak pernah tahu panas malam ini, karena kau asik menyalakan ac di kamar tidurmu. Betapa kau tak pernah tahu hutan kami gundul, karena kau sibuk cebok dengan tissue dari pohon hutan kami yang kalian tebang ilegal. Betapa kau tidak pernah mengerti , betapa kau egois dan betapa menderitanya kami gara-gara kamu.
Lalu negara-negara besar lainnya cuek dan kita bersama-sama menyongsong neraka akibat matahari yang semakin tak terhalang menuju rumah-ruamah kita. Dan kelak, anak cucu kita akan memaki, karena kita tak mewariskan apa-apa pada mereka selain kekeringan dan panas yang tak kunjung reda.
“Hmmmm…!”
18 January, 2010
SAYA PUNYA EKOR
Sejak sekolah SD, SMP,SMA bahkan hingga saat ini, saya selalu heran, kenapa celana saya selalu bolong di bagian pantat. Selalu saja celana saya bolong seperti itu. Awalnya menipis dengan sendirinya, lalu mulai bolong sedikit demi sedikit, hingga akhirnya berlubang, sampai-samapai celana dalam saya bisa terlihat warnanya dengan jelas. Saya sendiri heran, kenapa bisa demikian. Heran. Saya kerap bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa ya?Tidak ada celana yang awet saya pakai, bahkan jeans tebal sekalipun. Dalam setahun sekolah, saya bisa membolongkan 4 celana seragam sejenis. Itu artinya, celana saya bolong setiap 3 bulan sekali. Angka ini berlaku untuk semua celana seragam. Kalau seragam saya ada 3 macam, berarti setahun saya membolongkan 4x3 celana, 12 celana seragam. Astaga. Coba bayangkan, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengganti 12 celana saya yang bolong, di awal tahun ajaran baru. 12 celana dikalikan harga tiap celana. Padahal Itu belum termasuk jumlah celana non seragam lainnya, seperti celana jeans, celana pendek dan celana-celana sehari-hari. Akibatnya, banyak celana bolong saya yang tak terpakai, meskipun warnanya belum lusuh dan pudar. Untuk jeans, beberapa sudut kena tambal dan masih bisa pakai, meskipun tidak butuh waktu banyak untuk saya bolongkan lagi.
Ibu saya sejak dulu menuduh pantat saya tajam kaya pisau, atau kasar kayak amplas. Saya kerap kali protes dan tidak terima, sebab ketika saya priksa, pantat saya normal dan tak ada kejanggalan apapun. Normal-normal aja tuh.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Saya sering bertanya ke teman saya, berapa celana yang ia lubangi tiap tahun, atau berapa lama sebuah celana ia bolongkan. Tentu saja jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah celana bolong saya, atau rentang waktu yang dibutuhkan, jauh lebih panjang dibandingkan waktu yang saya butuhkan untuk membuat celana bolong.
Saya curiga sama diri saya sendiri. Bahkan dalam diam, saya seringkali iseng berpikir, kalau saya ini memiliki pantat yang aneh. Hahaha. Apakah saya sebenarnya punya ekor? Saya belum tahu, kita lihat saja nanti, kalau terbukti, segera akan saya konfirmasi.
Gambar diambil dari sini
30 December, 2009
Doa seorang tukang tambal ban
Malam ini, aku berdoa padamu, Tuhan
Kirimkanlah padaku
satu saja seorang yang ban motornya bocor
satu saja, Tuhan
Satu lubang saja. Biar besok pagi istriku bisa membeli satu liter beras
Amin
Jalan Solo, 28 Desember 2009
Kirimkanlah padaku
satu saja seorang yang ban motornya bocor
satu saja, Tuhan
Satu lubang saja. Biar besok pagi istriku bisa membeli satu liter beras
Amin
Jalan Solo, 28 Desember 2009
26 December, 2009
Larang Lagi Larang Lagi
Larang lagi, larang lagi. Kayaknya melarang adalah hobi negara kita tercinta Indonesia ini. Kejaksaan (yang katanya) Agung ini, telah melarang peredaran 5 buah buku. Buku-buku ini dilarang berdar, sebab dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UU 1945 dan Pancasila. Katanya, mereka telah melakukan penelitian terhadap buku-buku tersebut dan buku itu dinyatakan berbahaya. Hal ini diungkapkan saat jumpa pers Laporan Kinerja Kejagung Tahun 2009 di Kejagung.
Ada 5 buku yang dilarang beredar, juga ada satu film yang dilarang putar. Perasaan Soeharto dah mati ya. Lah, kok? Jangan-jangan reinkarnasinya. Atau reinkarnasi rezimnya lahir kembali di rezim SBY saat ini. Apakah tataran bawah masyarakat kita terlalu hiporia Reformasi, atau amnesia sejarah? Sementara itu, tataran atas birokratik, rindu Orba? Sebuah pertanyaan yang menjebak!
Lima buku yang dilarang beredar itu antara lain:
1. Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa
2. Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karangan Cocratez Sofyan Yoman
3. Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan,
4. Enam Jalan Menuju Tuhan karangan Darmawan
5. Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.
Ada yang bilang, dilarang tentu karena ada sebabnya. Jangan negatif thinking dulu.
Jelaslah, pasti ada pertimbangannya. Pertimbangan pastinya adalah, karena sejarah mau dibungkam. Lihat saja, buku John Rosa "Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” adalah buku yang diduga paling mendekati fakta dan logika tentang kasus G-30/S. Buku ini bahkan terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007. Dunia sudah mengakui, buku ini keren, top markotop. Alasannya bukan semata-mata kontroversial dengan pendekatan yang belum pernah dipakai peneliti lain selama ini. Namun buku ini disusun dengan penelitian yang lama dan sangat teliti, mengahbiskan banyak biaya, dan risetnya mendalam. Kalau dunia saja mengakui, kenapa di Indonesia dibredel?
Sementara Buku "Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965” karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, adalah buku yang bagi saya sangat komprehensif dan netral melihat fenomena dunia tulis menulis di era itu. Dan film Balibo Five, menurut saya malah biasa saja. Bukan rahasia lagi, sudah banyak kasus seperti itu. Tanpa difilmkan pun orang sudah tahu, bagaimana militer di Indonesia, dan bagaimana mereka di daerah konflik.
Kenapa dibredel? Sebab buku-buku ini yang menuliskan kebenaran, dan negara selalu takut kebohongan dan dosa besar mereka terungkap.
Hanya buku Lekra Tak Membakar Buku dan Dalih Pembunuhan Masal yang sudah saya baca, sementara tiga di antaranya belum saya lihat bukunya. Namun, dari judul-judul buku tersebut, sudah terlihat bahwa tiga buku yang belum saya baca adalah buku yang mengkritisasi multikulturalisme, terutama agama. Bukankah, sejarah, agama, dan keberagaman, adalah isyu yang sering diinginkan seragam oleh Orba saat Berjaya dulu? Nah, mari kita lihat, ternyata benih-benih Orba muncul lagi dengan ingin membungkam dan menyeragamkan pola pikir masyarakat. Caranya adalah membredel buku yang kritis dan menganjurkan buku versi pemerintah.
Buku-buku itu dilarang beredar, bukan cuma dibatasi. Kalau alasannya adalah negara ini bukan negara liberal yang membebaskan segala sesuatu untuk diungkapkan, dan negara tidak banyak ikut campur pada ranah urusan privasi, mungkin betul. Tapi negara secara paham ekonomi politik telah menganut sistem liberal total, sejak tahun 1970-an, bahkan ketika rezim Soekarno diganti Soeharto. Sementara negara selalu mendengung-dengungkan demokrasi, pancasila dan sebagainya. Mana buktinya? Aspirasi dibungkam dan hak berpendapat dilarang. Buku-buku ini bukan cuma pendapat, tapi dukungan faktanya lengkap. Dunia mengakui buku John Rosa adalah satu dari tiga buku terbaik tentang kasus 65 di Indonesia. Negara hanya takut, dosa sejarah mereka (terutama tentara, CIA, dan Amerika) terbongkar dengan beredarnya buku ini.
Pelarangan demi pelarangan makin banyak terjadi. Belum hlang dari benak kita tentang pembakaran buku beberapa waktu lalu. Sekarang pelarangan kembali terjadi. Bahkan bagi Muhidin, ini bukan kali pertama bukunya dilarang. Buku Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, dan beberapa bukunya yang menyinggung masalah keagamaan bahkan sempat dimusnahkan dan dia didatangi oleh beberapa organ islam, termasuk MUI yang sempat mengharmkan buku tersebut.
Penanganan hal seperti ini oleh negara, membuktikan bahwa negara seolah ketakutan dengan beredarnya buku-buku kritis dan berpersfektif berbeda dengan pemerintah. Isyu multikulturalisme, keberbedaan beragama, pembungkaman sejarah adalah isyu-isyu khas Orba dulu. Kanapa rezim SBY menghidupkannya lagi? Hmmm, rupanya hantu-hantu Orba bergentayangan di benak kita dan pemerintah kita.
Kalau perbedaan pendapat, perbedaan sudut pandang dan persfektif itu mungkin wajar. Tapi apakah pembakaran buku, pembredelan adalah tindakan yang arif? Saya adalah orang yang selalu menolak dua hal ini. Secara logika akal sehat, jika memang sebuah buku dinilai menyesatkan, dinilai salah, apakah pemikiran, riset dan usaha penulisnya akan diabaikan begitu saja? Kenapa tak lawan buku dengan buku, seperti yang pernah dilakukan Wiranto, Habibie dan Prabowo ketika mereka berdebat mengenai kejadian 98 di awal tahun 2006 lalu? Lawan buku dengan buku, lawan api dengan api.
Ada 5 buku yang dilarang beredar, juga ada satu film yang dilarang putar. Perasaan Soeharto dah mati ya. Lah, kok? Jangan-jangan reinkarnasinya. Atau reinkarnasi rezimnya lahir kembali di rezim SBY saat ini. Apakah tataran bawah masyarakat kita terlalu hiporia Reformasi, atau amnesia sejarah? Sementara itu, tataran atas birokratik, rindu Orba? Sebuah pertanyaan yang menjebak!
Lima buku yang dilarang beredar itu antara lain:
1. Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa
2. Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karangan Cocratez Sofyan Yoman
3. Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan,
4. Enam Jalan Menuju Tuhan karangan Darmawan
5. Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.
Ada yang bilang, dilarang tentu karena ada sebabnya. Jangan negatif thinking dulu.
Jelaslah, pasti ada pertimbangannya. Pertimbangan pastinya adalah, karena sejarah mau dibungkam. Lihat saja, buku John Rosa "Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” adalah buku yang diduga paling mendekati fakta dan logika tentang kasus G-30/S. Buku ini bahkan terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007. Dunia sudah mengakui, buku ini keren, top markotop. Alasannya bukan semata-mata kontroversial dengan pendekatan yang belum pernah dipakai peneliti lain selama ini. Namun buku ini disusun dengan penelitian yang lama dan sangat teliti, mengahbiskan banyak biaya, dan risetnya mendalam. Kalau dunia saja mengakui, kenapa di Indonesia dibredel?
Sementara Buku "Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965” karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, adalah buku yang bagi saya sangat komprehensif dan netral melihat fenomena dunia tulis menulis di era itu. Dan film Balibo Five, menurut saya malah biasa saja. Bukan rahasia lagi, sudah banyak kasus seperti itu. Tanpa difilmkan pun orang sudah tahu, bagaimana militer di Indonesia, dan bagaimana mereka di daerah konflik.
Kenapa dibredel? Sebab buku-buku ini yang menuliskan kebenaran, dan negara selalu takut kebohongan dan dosa besar mereka terungkap.
Hanya buku Lekra Tak Membakar Buku dan Dalih Pembunuhan Masal yang sudah saya baca, sementara tiga di antaranya belum saya lihat bukunya. Namun, dari judul-judul buku tersebut, sudah terlihat bahwa tiga buku yang belum saya baca adalah buku yang mengkritisasi multikulturalisme, terutama agama. Bukankah, sejarah, agama, dan keberagaman, adalah isyu yang sering diinginkan seragam oleh Orba saat Berjaya dulu? Nah, mari kita lihat, ternyata benih-benih Orba muncul lagi dengan ingin membungkam dan menyeragamkan pola pikir masyarakat. Caranya adalah membredel buku yang kritis dan menganjurkan buku versi pemerintah.
Buku-buku itu dilarang beredar, bukan cuma dibatasi. Kalau alasannya adalah negara ini bukan negara liberal yang membebaskan segala sesuatu untuk diungkapkan, dan negara tidak banyak ikut campur pada ranah urusan privasi, mungkin betul. Tapi negara secara paham ekonomi politik telah menganut sistem liberal total, sejak tahun 1970-an, bahkan ketika rezim Soekarno diganti Soeharto. Sementara negara selalu mendengung-dengungkan demokrasi, pancasila dan sebagainya. Mana buktinya? Aspirasi dibungkam dan hak berpendapat dilarang. Buku-buku ini bukan cuma pendapat, tapi dukungan faktanya lengkap. Dunia mengakui buku John Rosa adalah satu dari tiga buku terbaik tentang kasus 65 di Indonesia. Negara hanya takut, dosa sejarah mereka (terutama tentara, CIA, dan Amerika) terbongkar dengan beredarnya buku ini.
Pelarangan demi pelarangan makin banyak terjadi. Belum hlang dari benak kita tentang pembakaran buku beberapa waktu lalu. Sekarang pelarangan kembali terjadi. Bahkan bagi Muhidin, ini bukan kali pertama bukunya dilarang. Buku Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, dan beberapa bukunya yang menyinggung masalah keagamaan bahkan sempat dimusnahkan dan dia didatangi oleh beberapa organ islam, termasuk MUI yang sempat mengharmkan buku tersebut.
Penanganan hal seperti ini oleh negara, membuktikan bahwa negara seolah ketakutan dengan beredarnya buku-buku kritis dan berpersfektif berbeda dengan pemerintah. Isyu multikulturalisme, keberbedaan beragama, pembungkaman sejarah adalah isyu-isyu khas Orba dulu. Kanapa rezim SBY menghidupkannya lagi? Hmmm, rupanya hantu-hantu Orba bergentayangan di benak kita dan pemerintah kita.
Kalau perbedaan pendapat, perbedaan sudut pandang dan persfektif itu mungkin wajar. Tapi apakah pembakaran buku, pembredelan adalah tindakan yang arif? Saya adalah orang yang selalu menolak dua hal ini. Secara logika akal sehat, jika memang sebuah buku dinilai menyesatkan, dinilai salah, apakah pemikiran, riset dan usaha penulisnya akan diabaikan begitu saja? Kenapa tak lawan buku dengan buku, seperti yang pernah dilakukan Wiranto, Habibie dan Prabowo ketika mereka berdebat mengenai kejadian 98 di awal tahun 2006 lalu? Lawan buku dengan buku, lawan api dengan api.
Subscribe to:
Posts (Atom)

