20 February, 2010

Pasar Sekaten

Di malam gerah
ratusan wajah asing nan gembira
berkeringat di depan kita
anak-anak kecil bermain, ada yang masuk balon udara di atas air
ada yang naik kereta, naik komidi putar, juga belanja gula-gula
sebagian merengek minta boneka, pita rambut, mobil-mobilan

Betapa senang wajah mereka

aku jadi ingat masa kecilku
merengek minta ke pasar malam pada ayah ibu
minta gula-gula, mobil-mobilan, juga minta dompet untuk kuisi uang tabunganku yang tak seberapa

Aku jadi geli sendiri

Aku menyaksikan wajah asing beberapa ayah
yang tampak bingung dan ragu membayar mainan untuk anaknya
kulihat salah satunya ragu merogoh saku celana kainnya
aku menebak-nebak
:kerja apa ayah itu

Sampai kuintip punggungnya
Tak tertulis apa-apa, selain nomor partai dan di dada bajunya
ada seorang bersisir rapi
Si SBY rupanya.


Solo, 13 Februari 2010
Gambar dari sini

30 January, 2010

MENUJU LAUT


Sesaat sebelum aku memutuskan untuk meninggalkanmu, aku menulis surat ini semoga kelak bisa kau baca sendiri.

Hey! Aku telah berkemas untuk berangkat menuju laut. Jadi, setelah berpamitan denganmu, aku langsung menuju laut. Maka ketika kau baca surat ini, anggaplah aku sekarang telah berada di laut, selamat sampai tujuan, merantau sendiri menjauhi segala keriuhan, dan bergabung dengan mereka yang mengasingkan diri di sini. Saat kau baca surat ini, mungkin aku sedang menyelidiki, adakah manusia di bawah laut. Adakah mereka juga seperti aku, penat di atas dan mencebur berenang menuju laut.

Kutulis surat ini hanya untukmu, aku tak pernah punya teman untuk bercerita, makanya aku teringat kebiasaan unik kita sejak dahulu, menulis untuk saling berbagi cerita.

Tahukah kau, konon di sini tidak pernah ada panas dan hujan. Sehari-hari tidak ada cuaca dan konon tidak pernah ada iklim. Setiap hari di sini teduh dan damai. Meskipun di sini juga ramai seperti di atas dunia sana, tempat dulu kita saling beradu senyum dan meneriakkan tawa.

Bayangkan saja aku kini bersirip, mempunyai insang dan bisa bernapas sambil berenang di laut. Asyikkan? Tentu saja. Banyak terumbu karang, ikan-ikan manis nan cantik dan beraneka ragam. Mereka berkelompok dan tak pernah sendirian, makan bersama, berebut berkejaran. Mereka akan pulang jika sudah kenyang dan waktunya bersembunyi, menyelip di celah-celah karang. Tentu saja mereka tidak terluka, sebab tubuh mereka begitu lihai memasuki celah sempit karang-karang itu. Bayangkanlah, aku ikut bersama grombolan itu.

Sayang, jika aku selamat dalam perjalan, aku telah berada di bawah laut sekarang. Baiklah, jangan pernah sesali, sayang. Karena aku juga tak pernah menyesal untuk menjauh darimu. Salam manis selalu dariku.


Jogjakarta, Juli 2009-Januari 2010
Gambar diambil dari sini

27 January, 2010

CUEK

 



“Mari kita tandatangani persetujuan ini.”
“Persetujuan apaan?”
“Pengurangan gas emisi karbon.”
“Untuk apa?”
“Ya, untuk mengurangi polusi, lah!”
“Polusi?”
“Jangan pura-pura tidak tahu, kau merasakannya sendiri, kan?”
“Lalu, apa hubungannya dengan tanda tangan?”
“Karena kita telah berbuat bayak kerusakan!”
“Kerusakan apaan maksudmu? Jangan hiperbolis dan mengada-ngadalah!”
“Ya itu! Kamu banyak memberi polusi ke udara kita bersama.”
“Lah, itu kan buat memakmurkan rakyatku!”
“Tapi rakyat negara lain semakin tidak makmur, alias terkena imbas pembangunan industrimu yang berlebihan! Udara jadi makin panas, hutan gundul dan wabah penyakit semakin banyak. Kutub semakin sempit dan keseimbangan dunia terancam!”
“Bodo amat, aku hanya mau makmur!”
“Kami juga mau makmur!”
“Ya sudah, ngapain saling urus? Kita punya jalan masing-masing, kan?”
“ Karena kau bagian dari kami, bego!”
“Sejak kapan? “
“…”
“Kapan?”
“Ya, sejak kita muncul dengan identitas masing-masing di bumi ini! Karena kita hidup berdampingan!”
“Akh, persetan!”
“Huh, dasar negara sok besar, maunya menang sendiri.”
“Dasar negara miskin, sok mengurus segala hal dan cemburu!”
***

Lalu si negara-negara industri besar walk out dari kongres, dan polusi semakin merajalela akibat tingkahnya; cerobong asap yang tak berhenti mengepul.
Oh, betapa kau tak pernah tahu panas malam ini, karena kau asik menyalakan ac di kamar tidurmu. Betapa kau tak pernah tahu hutan kami gundul, karena kau sibuk cebok dengan tissue dari pohon hutan kami yang kalian tebang ilegal.  Betapa kau tidak pernah mengerti , betapa kau egois dan betapa menderitanya kami gara-gara kamu.
Lalu negara-negara besar lainnya cuek dan kita bersama-sama menyongsong neraka akibat matahari yang semakin tak terhalang menuju rumah-ruamah kita. Dan kelak, anak cucu kita akan memaki, karena kita tak mewariskan apa-apa pada mereka selain kekeringan dan panas yang tak kunjung reda.
“Hmmmm…!”


Yogyakarta, 8 Februari 2008

18 January, 2010

SAYA PUNYA EKOR

Sejak sekolah SD, SMP,SMA bahkan hingga saat ini, saya selalu heran, kenapa celana saya selalu bolong di bagian pantat. Selalu saja celana saya bolong seperti itu. Awalnya menipis dengan sendirinya, lalu mulai bolong sedikit demi sedikit, hingga akhirnya berlubang, sampai-samapai celana dalam saya bisa terlihat warnanya dengan jelas. Saya sendiri heran, kenapa bisa demikian. Heran. Saya kerap bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa ya?

Tidak ada celana yang awet saya pakai, bahkan jeans tebal sekalipun. Dalam setahun sekolah, saya bisa membolongkan 4 celana seragam sejenis. Itu artinya, celana saya bolong setiap 3 bulan sekali. Angka ini berlaku untuk semua celana seragam. Kalau seragam saya ada 3 macam, berarti setahun saya membolongkan 4x3 celana, 12 celana seragam. Astaga. Coba bayangkan, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengganti 12 celana saya yang bolong, di awal tahun ajaran baru. 12 celana dikalikan harga tiap celana. Padahal Itu belum termasuk jumlah celana non seragam lainnya, seperti celana jeans, celana pendek dan celana-celana sehari-hari. Akibatnya, banyak celana bolong saya yang tak terpakai, meskipun warnanya belum lusuh dan pudar. Untuk jeans, beberapa sudut kena tambal dan masih bisa pakai, meskipun tidak butuh waktu banyak untuk saya bolongkan lagi.

Ibu saya sejak dulu menuduh pantat saya tajam kaya pisau, atau kasar kayak amplas. Saya kerap kali protes dan tidak terima, sebab ketika saya priksa, pantat saya normal dan tak ada kejanggalan apapun. Normal-normal aja tuh.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Saya sering bertanya ke teman saya, berapa celana yang ia lubangi tiap tahun, atau berapa lama sebuah celana ia bolongkan. Tentu saja jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah celana bolong saya, atau rentang waktu yang dibutuhkan, jauh lebih panjang dibandingkan waktu yang saya butuhkan untuk membuat celana bolong.

Saya curiga sama diri saya sendiri. Bahkan dalam diam, saya seringkali iseng berpikir, kalau saya ini memiliki pantat yang aneh. Hahaha. Apakah saya sebenarnya punya ekor? Saya belum tahu, kita lihat saja nanti, kalau terbukti, segera akan saya konfirmasi.


Gambar diambil dari sini

30 December, 2009

Doa seorang tukang tambal ban


Malam ini, aku berdoa padamu, Tuhan
Kirimkanlah padaku
satu saja seorang yang ban motornya bocor

satu saja, Tuhan
Satu lubang saja. Biar besok pagi istriku bisa membeli satu liter beras

Amin


Jalan Solo, 28 Desember 2009

26 December, 2009

Larang Lagi Larang Lagi


Larang lagi, larang lagi. Kayaknya melarang adalah hobi negara kita tercinta Indonesia ini. Kejaksaan (yang katanya) Agung ini, telah melarang peredaran 5 buah buku. Buku-buku ini dilarang berdar, sebab dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UU 1945 dan Pancasila. Katanya, mereka telah melakukan penelitian terhadap buku-buku tersebut dan buku itu dinyatakan berbahaya. Hal ini diungkapkan saat jumpa pers Laporan Kinerja Kejagung Tahun 2009 di Kejagung.

Ada 5 buku yang dilarang beredar, juga ada satu film yang dilarang putar. Perasaan Soeharto dah mati ya. Lah, kok? Jangan-jangan reinkarnasinya. Atau reinkarnasi rezimnya lahir kembali di rezim SBY saat ini. Apakah tataran bawah masyarakat kita terlalu hiporia Reformasi, atau amnesia sejarah? Sementara itu, tataran atas birokratik, rindu Orba? Sebuah pertanyaan yang menjebak!

Lima buku yang dilarang beredar itu antara lain:

1. Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa
2. Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karangan Cocratez Sofyan Yoman
3. Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan,
4. Enam Jalan Menuju Tuhan karangan Darmawan
5. Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.

Ada yang bilang, dilarang tentu karena ada sebabnya. Jangan negatif thinking dulu.
Jelaslah, pasti ada pertimbangannya. Pertimbangan pastinya adalah, karena sejarah mau dibungkam. Lihat saja, buku John Rosa "Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” adalah buku yang diduga paling mendekati fakta dan logika tentang kasus G-30/S. Buku ini bahkan terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007. Dunia sudah mengakui, buku ini keren, top markotop. Alasannya bukan semata-mata kontroversial dengan pendekatan yang belum pernah dipakai peneliti lain selama ini. Namun buku ini disusun dengan penelitian yang lama dan sangat teliti, mengahbiskan banyak biaya, dan risetnya mendalam. Kalau dunia saja mengakui, kenapa di Indonesia dibredel?

Sementara Buku "Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965” karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, adalah buku yang bagi saya sangat komprehensif dan netral melihat fenomena dunia tulis menulis di era itu. Dan film Balibo Five, menurut saya malah biasa saja. Bukan rahasia lagi, sudah banyak kasus seperti itu. Tanpa difilmkan pun orang sudah tahu, bagaimana militer di Indonesia, dan bagaimana mereka di daerah konflik.

Kenapa dibredel? Sebab buku-buku ini yang menuliskan kebenaran, dan negara selalu takut kebohongan dan dosa besar mereka terungkap.

Hanya buku Lekra Tak Membakar Buku dan Dalih Pembunuhan Masal yang sudah saya baca, sementara tiga di antaranya belum saya lihat bukunya. Namun, dari judul-judul buku tersebut, sudah terlihat bahwa tiga buku yang belum saya baca adalah buku yang mengkritisasi multikulturalisme, terutama agama. Bukankah, sejarah, agama, dan keberagaman, adalah isyu yang sering diinginkan seragam oleh Orba saat Berjaya dulu? Nah, mari kita lihat, ternyata benih-benih Orba muncul lagi dengan ingin membungkam dan menyeragamkan pola pikir masyarakat. Caranya adalah membredel buku yang kritis dan menganjurkan buku versi pemerintah.
Buku-buku itu dilarang beredar, bukan cuma dibatasi. Kalau alasannya adalah negara ini bukan negara liberal yang membebaskan segala sesuatu untuk diungkapkan, dan negara tidak banyak ikut campur pada ranah urusan privasi, mungkin betul. Tapi negara secara paham ekonomi politik telah menganut sistem liberal total, sejak tahun 1970-an, bahkan ketika rezim Soekarno diganti Soeharto. Sementara negara selalu mendengung-dengungkan demokrasi, pancasila dan sebagainya. Mana buktinya? Aspirasi dibungkam dan hak berpendapat dilarang. Buku-buku ini bukan cuma pendapat, tapi dukungan faktanya lengkap. Dunia mengakui buku John Rosa adalah satu dari tiga buku terbaik tentang kasus 65 di Indonesia. Negara hanya takut, dosa sejarah mereka (terutama tentara, CIA, dan Amerika) terbongkar dengan beredarnya buku ini.

Pelarangan demi pelarangan makin banyak terjadi. Belum hlang dari benak kita tentang pembakaran buku beberapa waktu lalu. Sekarang pelarangan kembali terjadi. Bahkan bagi Muhidin, ini bukan kali pertama bukunya dilarang. Buku Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, dan beberapa bukunya yang menyinggung masalah keagamaan bahkan sempat dimusnahkan dan dia didatangi oleh beberapa organ islam, termasuk MUI yang sempat mengharmkan buku tersebut.

Penanganan hal seperti ini oleh negara, membuktikan bahwa negara seolah ketakutan dengan beredarnya buku-buku kritis dan berpersfektif berbeda dengan pemerintah. Isyu multikulturalisme, keberbedaan beragama, pembungkaman sejarah adalah isyu-isyu khas Orba dulu. Kanapa rezim SBY menghidupkannya lagi? Hmmm, rupanya hantu-hantu Orba bergentayangan di benak kita dan pemerintah kita.

Kalau perbedaan pendapat, perbedaan sudut pandang dan persfektif itu mungkin wajar. Tapi apakah pembakaran buku, pembredelan adalah tindakan yang arif? Saya adalah orang yang selalu menolak dua hal ini. Secara logika akal sehat, jika memang sebuah buku dinilai menyesatkan, dinilai salah, apakah pemikiran, riset dan usaha penulisnya akan diabaikan begitu saja? Kenapa tak lawan buku dengan buku, seperti yang pernah dilakukan Wiranto, Habibie dan Prabowo ketika mereka berdebat mengenai kejadian 98 di awal tahun 2006 lalu? Lawan buku dengan buku, lawan api dengan api.

19 December, 2009

Tak Kau Tahu

Kau tidak pernah tahu. Aku belum bisa mengatakannya sekarang; di awal surat ini. tapi akan aku katakan di ujung tulisan ini. (Eits, kamu tidak boleh melihatnya. Baca saja urut seperti aku menulisnya. Oke? Mari kita lanjutkan!)

Ini surat cintaku yang pertama. Pertama menulis, pertama pula untukmu.

Kita pernah saling mengenal. Kau tahu itu.

Persinggungan panas dan air laut, adalah asal muasal uap menjadi hujan. Hujan yang deras berawal dari air yang terlalu banyak menanjak, menjadi awan yang berat. Awan tak kuat menahan uap air, maka jatuhlah hujan. Itu yang terjadi pada kita. Pertemuan kita menjadi awal untuk perpisahan yang mungkin akan lama. Perpisahan awan dengan uap yang dikandungnya.

Aku ingat saat kita berkenalan. Pandanganmu aneh. Aku mengenal jenis pandangan itu. Kau tidak pernah bisa menipu mataku. Aku terlalu paham bahasa mata. Apa lagi mata yang ganjil seperti matamu. Dan kau membuktikannnya sehari setelah jabat tangan yang kau anggap berkesan itu. Kau mengagumiku, katamu. Aku melambung, hanya sejenak tapi. Aku tak pernah mau menikmatinya. Aku tak bisa menikmati rasa melambung yang kau ciptakan.

Dari situlah, cerita berat harus aku jalani. Menjadi kekasihmu adalah hal yang berat bagiku.

Barangkali kau menganggap aku… akh, berat sekali aku mengungkapanya. Baiklah. Kau harus tahu sifatku; aku lelaki kacangan, terlalu mudah jatuh cinta, aku terlalu lemah untuk bertindak. Kalau aku tak salah rasa, aku yakin kau sangat mencintaiku. Benar, kan? Lagi-lagi kau tidak bisa berbohong dengan tatapan matamu, ditambah senyummu. Akuilah kau sangat mencintaiku.

Lalu kita berpacaran. Sebuah hubungan aneh yang tiba-tiba. Kau mengucapkan terimakasih karena telah aku pilih, dank au mengucapkan cinta juga.

Tapi jangan marah kalau aku sebenarnya berat untuk menjalaninya. Ini kesalahanku karena tak tegas dahulu; sesungguhnya aku tidak pernah mencintaimu. (tolong, tolong jangan salahkan aku. Bukannya aku tak tahu diri, aku memang tidak bersalah. Begitu juga kamu. Keadaan saja yang membuat semuanya seprti ini. biarlah… waktu akan menjawabnya)

Kau tentu tidak pernah tahu. Biarlah aku katakan sekarang. Yang mengucapkan cinta padamu dulu bukan aku. Tapi temanku. Maafkan aku.

NB:

Malam ini aku berangkat menuju laut. Tolong, jangan cari aku. Jangan rindukan aku. Aku tak pernah mencintaimu.

Yogyakarta, 2008.

26 November, 2009

Jualan Buku


Hei kawan-kawan bloger!!! Kali ini saya mau jualan buku di blog saya hehehe. Boleh donk. Saya ada tiga buku nih. Berhubung Idul Adha, saya mau kasih diskon buat kawan-kawan semua.
Rumah Merah Kita. Ini adalah novel pertama saya. Kalau di toko buku sih harganya Rp. 37.500,- sesuai bandrol yang ada di bukunya. Tapi berhubung saya lagi berbaik hati, saya mau kasih diskon buat kawan-kawan yang sering berkunjung ke sini. Harganya jadi Rp. 20.000,- saja deh.
Sketsa Senja. Buku ini adalah buku kumpulan puisi saya yang pertama. Terbit tahun 2008 secara indie dan saat ini cetak ulang (Oktober 2009). Harganya murah saja hanya Rp. 15. 000,- katanya Amier Chan sih, terlalu murah. Tapi nggak apa-apalah. Biarin aja, mumpung Idul Adha, saya mau berbaik hati. (yang ini persediannya terbatas, tinggal 10 eksemplar aja. Rencana mau cetak lagi kalau dah habis)
Tralalatrilili. Buku ini adalah kumpulan tulisan saya bersama kawan-kawan di komunitas Tanpa Nama. Hmmm… bukunya seharga Rp. 25.000,- saja.

Berikut review 3 buku ini:

Rumah Merah Kita: Adalah Novel karya Irwan Bajang, yang bercerita tentang sebuah negara dengan rezim diktator. Perlawanan muncul dari golongan muda, dengan mendirikan Rumah Merah, Ariaseni, Verzaya dan Razonca melakukan usaha-usaha untuk mengembalikan keadaan negara mereka menuju negara makmur seperti sediakala. Novel ini diwarnai, cinta, persahabatan, ego dan banyak kepentingan. Disintegrasi persahabatan dan disintegrasi nasional negara mereka terancam. Ini adalah novel yang layak dibaca oleh pemuda, mahasiswa, pemerintah, dosen dan semua orang yang tinggal di negara yang pernah terjajah. Novel ini sebagai gambaran tentang betapa globalisasi begitu gombalisasi. Penerbit: jagad Media Jogjakarta. Tebal: 215 halaman.

Sketsa Senja: Adalah kumpulan puisi tunggal Irwan Bajang. Terbit pertama Januari 2008. Dan dicetak ulang lagi sekarang. Penulis: Irwan Bajang Tebal: x+60 hal. Cetakan kedua: Oktober 2009 .

Tralalatrilili: Ini adalah album tulisan kompilasi Irwan Bajang bersama 10 orang penulis lainnya. Penulis: Komunitas Tanpa Nama (KTN) Tebal: 130 halaman. Harga: Rp. 25.000,- Cetakan pertama: Sept. 2009.

Ini gambarnya:





Kalau mau beli, nanti tinggal transfer aja harga buku plus ongkos kirimnya ke rekening:
Mandiri: 1370006436899
BRI: 002901063422508
Setelah itu, silakan konfirmasi ke email irwan_bajang@yahoo.com atau sms ke 081927595022. Bukunya akan langsung dikirim ke alamat kamu.

Ayo, ditunggu ya kawan-kawan. Jadikan buku sebagai hadiah ulang tahun, hadiah lebaran, natal atau tahun baru. :D







Ode untuk Aria

Sebab aku mengikuti setiap isyarat hatiku untuk mengenangmu, Aria, maka aku yakinkan kau bahwa aku mencintaimu.
Sebab aku adalah kembara, maka aku akan segera pulang untuk dirimu, Aria.
Tahukah kau, di setiap jejak yang kupijak, kucipta jutaan puisi untuk namamu. Aku yakin, aku lahir dari sebuah nama yang dulu pernah hidup bersamamu.

Kita telah bereinkarnasi bersama, setelah jutaan tahun terpisah, Aria. Jika dulu kau adalah Hawa, maka biarkan aku percaya, aku adalah Adam yang dicipta Tuhan. Aria, malam ini ijinkan aku menemuimu, menemuimu dan membaiatmu sebagai sebuah nama cinta.

Aku telah lama meleburkan diri dalam malam-malam dan pagi yang tak kunjung usai, Aria. Aria, Aria, dalam remuk redam, dalam dingin selimut-selimutku, kutunggu selalu dirimu. Aria, o, Aria. Dalam selimut-selimut dan dingin malam, aku menggigil menyebut namamu.


The rain was so cold
makes me shiver
chilled

in my lonely blanket
I'm delirious
because dream of you



Zonca

23 November, 2009

Sentimentil

kau cantik
indah dan hangat

aku tak tahu
mengapa aku jadi sentimentil layaknya sekarang
apakah lagu-lagu merdu mempengaruhiku?
karena begitu lama aku hanya bersahabat lirik-lirik cadas
dan musik-musik gelap?
: saatnya sedikit mengendap
cooling down and be come freeze

banyak hal yang tak harus direnungkan dengan sangat sentimentil
sebab di jalan, kita banyak menemukan peristiwa
yang mesti diselesaikan tanpa harus merenung dan berpikir

hangat sekali tubuhmu saat aku dekap

mari berlari
merindu masa kanak kita yang begitu mempesona
sudahlah,
itu bukit mari kita daki


Jogjakarta, 27/8/09