06 May, 2009

magrib

Bunga-bunga padang tebu yang memutih ini,
menceritakan sepi sore hari
lewat desau angin yang meniup dingin
menjalar di dinding hati
lirih mengalun di rongga hati yang sepi


Sehabis solat magrib Tak ingin aku berdoa : malu di dada menyesak-liar membabi buta

Ia datang lagi mencekam
membopong paksa meski perlahan
Galau, aku tidak sedang ingin berteriak
Hanya ingin lirih saja berucap pelan
:Sehabis solat magrib Tak ingin aku berdoa, malu di dada menyesak liar-membabi buta

Lalu di pelataran ini aku meringkuk
mendengkur
tanpa doa sebelum tidur
tanpa munajat

Aku begitu sombong

2009

gambar diambil dari sini

14 comments:

  1. Anonymous5/06/2009

    saya suka sekali dengan puisi yang satu ini..dalam dan mistik sekali, kayak puisi2 orang sufi..
    :)

    ReplyDelete
  2. waaaah...saya jadi malu.
    iya, ini emang puisi yang saya bikin di situasi yang memang sedang mistis. hati galau tentang diri dan sang penciptanya
    makasih dah mengapresiasi
    :D

    ReplyDelete
  3. Salam petang saudara Irwan Bajang,

    puisi keagamaan kali ini,

    aku tetap menyukai cara saudara menulisnya.

    novel saudara "RUMAH MERAH KITA" itu bertemakan apa (?), jika aku ingin memilikinya bagaimana caranya (?).

    ReplyDelete
  4. haduh...
    aku malah gak bisa menikmati puisi kau ini...
    agak beda kayaknya ma puisi2mu sebelumnya...
    hehehe...

    ReplyDelete
  5. Bung, teruslah menulis. tapi sekarang harus punya visi lebih kreatif untuk "bicara lebih banyak" di dunia sastra kontemporer.

    Tukeran link ya.

    Fahd

    ReplyDelete
  6. oke..tar aku link bung Fahd..iya, makanya neh, menulis kreatif itu yang jarang dimiliki penulis2 tua, kita yang muda2 ini yang harus menggawangi
    :D

    ReplyDelete
  7. Kawan zulkifli di Malaysia ya?? bisa saya kirimkan nanti..
    :D

    ReplyDelete
  8. wah, aku jatuh cinta dengan puisi yang satu ini.

    ReplyDelete
  9. @Wahyudi...
    jatuh cinta?? tembak aja
    sapa tau mau jadi pacarmu bro.hehehehe

    ReplyDelete
  10. iya mas, itu novel tentang apa?
    penasaran jadinya setelah baca karya2mu
    :D

    ReplyDelete
  11. novel konflik sosial politik sebuah negara rekaan, juga cinta dan persahabatan yang digabung jadi satu dalam sebuah cerita.
    Novel ini tentang seorang pemuda yang bercita2 jadi peternak, namun ternyata di tenga jalan, cita2nya berubah drastis karena melihat negaranya yang kacau... lalu ia bergabung dalam Rumah Merah..
    namun kenyataan memang tak pernah seindah keinginan...
    heheehhehehe

    ReplyDelete
  12. ya..kadang kita begitu sombong dengan pencipta kita. mengapa misti begitu? aku menyukai puisi sufi begini yang bisa menghaluskan rasa mengingati Yang Esa

    ReplyDelete
  13. @Faziz.
    terima kasih atas apresiasinya dan salam hangat selalu..
    saya senag dengan dunia sufi yang mistik dan penuh perenungan

    ReplyDelete
  14. bajaaaang,,, hehek... sama baunyah kek si Puisi (karya) Santri tea. ad di MP gua...
    auk ah, gelaps ^,^ bubyeee... Bajang ai lap yu...

    ReplyDelete

silakan berkomentar