10 May, 2009

Wawancara Imajiner Saya dengan Adam

Adakah kau lebih setia dari Adam,
Menyusul Hawa turun ke bumi
Tak mau sendirian di surga?
Adakah kau tak seberahi Adam,
Tak bisa sendiri tanpa perempuan
bahkan meski itu di surga?
Lalu adakah surga begitu indahnya di benakmu?
Bukankah Adam lebih memilih Hawa daripada surga
Mei 2009

DALAM cerita di kitab-kitab Samawi, setidaknya sering kita dengarkan kisah yang sama. Meskipun ada sedikit perbedaan. Adam diciptakan sebagai manusia pertama oleh Tuhan (Allah dalam bahasa Arab, Yahweh dalam bahasa Ibrani) yang kemudian diusir dari surga lantaran memakan buah terlarang; Huldi. Lalu mereka terbuang dari surga dan menjadi cikal bakal manusia di muka bumi. Beranak pinak, lalu menjadi aku, kamu dan kita semua. Tentu saja argumen ini tidak bisa kita pakai kalau kita berbicara dengan seorang Darwinis atau orang yang tidak mengakui kitab-kitab suci Samawi. Berikut adalah pengakuan Adam yang saya rekam dalam wawancara imajiner saya tentang kesetiaan.
Silakan disimak
“Siapa yang paling setia di muka bumi ini?”
“Saya.”
“Dengan agumen?”
“Saya meninggalkan surga Demi Hawa. Padahal saya tahu bahwa dengan mengikutinya memakan buah Huldi, maka kami akan melanggar ketentuan Tuhan, dan saya paham betul resikonya.”
“Alasan lain? Cintakah itu namanaya?”
“Tidak sepenuhnya. Karena surga yang dijanjikan pada kalian sungguh berbeda dengan surgaku yang dulu aku tempati. Masih ada larangan dan masih ada kekurangan (baca: Huldi dan Hawa). Bukankah Tuhan menjanjikan kalian surga yang abadi? Buktinya aku masih bisa terusir.
Sebenarnya tidak murni cinta pada Hawa yang mebuat aku mau makan, tapi Huldi lebih menjadi sebuah penjara pikiran saya yang sengaja diciptakan Tuhan. Tuhan menciptakan saya dengan nafsu dan pikiran, juga sifat tergesa-gesa. Maka dengan memberikan larangan berupa Huldi, saya sesungguhnya telah tahu bahwa ini adalah skenario pengusiran saya dari surga. Saya hanya menunggu waktu saja saat itu. Saya sudah pasrah.
Betapa tidak mungkinnya saya menjadi malaikat yang patuh. Mengabaikan nafsu dan pikiran saya dari mendekati buah Huldi itu. Tuhan memang cerdas. Perencanaan pengusirannya sungguh tidak kasar, terselubung dan penuh teka-teki. Saya terjebak dalam penciptaan yang disempurnakan Tuhan. Sekali lagi saya tegaskan, pengusiran saya adalah skenario lama bikinan Tuhan".
“Gitu ya, Mas Adam? Lalu apakah Hawa lebih idah dari surga?”
“Pasti. Hawa jauh lebih indah dari segalanya.”
“Wanita racun dunia. Apakah anda sepakat?”
“Tentu saja sepakat. Racun itu jauh lebih menarik daripada madu, tapi sedikit orang yang mau mencobanya. Di mana-mana orang sudah tahu, madu itu manis dan menyehatkan. Tapi adakah yang bercerita tentang keindahan dan kenikmatan racun. Hanya saya yang berani!”
“Baik, terimakasih atas waktunya.”
“Sama sama.”
Para pembaca yang budiman, itu tadi sepenggal wawancara saya dengan Adam.
Mudahan bisa menjadi sebuah bahan diskusi kita di topik kali ini.
Salam hangat.
9 mei 2009



13 comments:

  1. sebuah dialog imajiner yang sungguh luar biasa...asik sekali membacanya..
    salam kenal Irwan Bajang

    ReplyDelete
  2. oke, salam kenal juga n makasih dah mengapresiasi...
    Bajang

    ReplyDelete
  3. Ada tinjauan agak lain, semacam interpretasi yang lebih meditatif. Buah Huldi itu diceritakan akan memberikan pengetahuan baik dan buruk.
    Pengetahuan yang dimaksud itu bukanlah pengetahuan sejati, tapi hanya persepsi yang dilekati dengan identitas diri, yaitu suka dan tidak suka.

    Penyebab dari penderitaan adalah adanya ketidaktahuan bahwa realita itu sejatinya tidak ada baik dan buruk. Karena itu tidak ada dasar bagi ego untuk menyebutkan hal itu "suka" dan "tidak suka".

    Kisah agama samawi tentang jatuhnya manusia dalam dosa dan menjadi penderitaan, itu adalah pengungkapan kembali bahwa penyebab penderitaan itu adalah ketidaktahuan.

    Dikiranya buah Huldi itu sumber pengetahuan, tapi yang terjadi sebaliknya, yaitu ketidaktahuan. Kenyataannya manusia sering terperosok dalam suka dan tidak suka.

    Trims Mas Irwan atas kesediaannya mampir di blog saya.

    ReplyDelete
  4. @Victor, iya sama2 Pak..
    hmmm..
    sepakat sama pak viktor bahwa sesungguhnya manusia itu bahwa kisah agama samawi, tentang jatuhnya adam hawa ke bumi sungguh merupakan sebuah ketidak tahuan manusia dan keingin tahuan yang selalu saja menjelma dalam pikiran dan kerap menghantui..namanya juga manusia.. selalu tergesa2 dan butuh pengetahuan tentang banyak hal

    ReplyDelete
  5. Saya senag sekali membaca ulasan tentang Adam ini.. di sini takdir diperbincangkan dengan longgar oleh penulisnya
    salut deh..uraian yang cerdas dan membuat saya banyak merenung ulang
    hehhehe

    ReplyDelete
  6. Saya teringat cerpen SDD yang juga bertajuk "Adam".

    -cintaku kepada Hawa ternyata telah membuatmu mau tidak mau harus tetap tinggal di dunia-

    ReplyDelete
  7. iya..iya..
    puisi itu indah sekali ya Bung..
    gak kalah keren kan sama puisi saya yang ini
    hahahahahahaha

    ReplyDelete
  8. mayshiza widya5/20/2009

    busyet...imajinatif banget kamu irwan, i like it.

    ReplyDelete
  9. Masak sih Mayshiza?
    saya jadi pengen malu nih..hehehehe

    ReplyDelete
  10. haduh2...
    gimana komennya ya?

    pokoknya aku seneng ide wawancara imajinernya...
    :)

    ReplyDelete
  11. Wanita racun dunia
    Hawa racun surga..
    hwehehehe

    Wawancara yang menarik. lain waktu, Mbahmu ini bolehlah diajak wawancara kalo mau dialog dengan para nabi.. hehehe

    ReplyDelete
  12. @Si Mbah...
    ayo kita hunting bareng kalo gitu mbah..hehehehe
    mau pilih narasumber yang mana dulu nih..hehehehe
    ayo berangkat!!!

    ReplyDelete
  13. Bagusss... enak di baca, n garing... :) Mhon juga mampir ke laman ku...http://gusnan-mulyadi.blogspot.com/2010/08/wawancara-imaginer-dengan-bung-karno-bk.html

    ReplyDelete

silakan berkomentar