19 November, 2010

Kafe: Manusia Pejalan

Aku sedang duduk di sebuah meja kafe. Setengah batang rokok di tangan, akan habis dalam dua atau tiga kali hisap lagi, dan aku tak ingin segera menghabiskannya.

Orang-orang di sekelilingku, mereka berbicara masing masing, dalam topik yang asing, suara yang samar dan tak ingin aku ketahui. Apa yang harus kulakukan di tengah bising dan hiruk mereka ini? Buku? Beberapa lembar baru saja aku mulai, tapi begitulah, aku adalah seorang pembosan. Kuhisap lagi setengah rokokku, sisa dua hisapan lagi. Sementara kopi di gelas putih di atas mejaku akan segera tandas dalam satu atau dua teguk. Aku tidak ingin beranjak. Aku tidak ingin mengakhiri duduk sore di kafe ini. Kukeluarkan biskuit bekal jalan-jalanku dari dalam tas. Kunikmati sendirian. Kuhisap lagi hisapan terakhir sebelum hisapan penghabisan.

Apa yang pantas dirindukan oleh aku, seorang pejalan jauh, selain nama-nama kota, belokan jalan dan wajah-wajah asing manusia yang kutemui dalam perjalanan. Hidupku dari hotel ke hotel murah pinggir kota, tepi pantai, atau losmen-losmen dekat terminal singgah, stasiun atau pelabuhan. Kekasih? Jangan kau tanya! Aku banyak menyimpan cinta, tapi cinta yang sebatas harap. Aku lelaki pergi, yang tak tahu dan selalu ragu untuk mengurai lalu menyimpan cinta. Adakah cinta yang pantas untuk seorang pejalan abadi layaknya aku ini? Adakah satu saja nama yang abadi untuk seorang lelaki pergi?

Ini adalah hisapan rokok terakhir. Kututup bukuku dan kumasukkan dalam tas, biar kubaca lagi nanti ketika aku ingin. Kopiku juga sudah regukan terakhir. Cepat sekali si waktu. Adakah memang yang bisa menghambat laju waktu? Kopi yang mendingin dan akan tandas, rokok yang sudah habis? Ah, waktu. Jika aku punya banyak uang, ingin rasanya membeli waktu. Biar kusimpan sendiri, kupakai semauku.

Sore mulai turun. Daun bringin di samping kafe telah berhenti berguguran, sebab panas dan matahari harus berpindah ke belahan dunia lain. Kubayar segelas kopi, lalu kulanjutkan perjalanan. Aku lelaki pergi, manusia pejalan, bahasaku kaki dan rumahku jalan.

21 comments:

  1. aku merasa ada aroma Paulo di cangkir kopi dan di hembusan asap rokokmu ada kepulan berbentuk coelho...

    ReplyDelete
  2. hahaha... eksperimen bentuk dan tema bung...
    masak sih coelho? okelah. sip. trims kalo begitu! hehehe

    ReplyDelete
  3. Selamat berjalan... hehehehe

    ReplyDelete
  4. "bahasaku kaki dan rumahku jalan"

    wow like this kang...dalem bgt kyknya yg ini...:)

    ReplyDelete
  5. coelho? I don't think so.... (nimbrung)

    like it!

    ReplyDelete
  6. deskripsinya bagus.saya suka gaya menulisnya:D

    ReplyDelete
  7. saya sungguh sedang bereksperimen dengan gaya ungkap yang berbeda. hehehe
    merasa aneh dengan tulisan ini, tapi ya, begitulah eksperimen..hehehe
    makasih kunjungan anda sekalian, sahabat.

    ReplyDelete
  8. like this! *kasi jempol*

    ReplyDelete
  9. 'Kaulah lagi yang tentukan', dan pasti aku suka caramu. Pejalan kaki! Kita baru meninggalkan Sosrowijayan Kulon, dan kita berjalan meski 'Wanita-wanita' itu menahan kita dengan siku tangannya. Malam.

    ReplyDelete
  10. Mmmmhhhhhhhhhh

    Keren. :)

    ReplyDelete
  11. bINgung udah pada komntar saya mewakili alias idem sama smw'a degh hehehhe

    ReplyDelete
  12. Semoga bisa bertemu di tikungan sana. Selanjutnya, kita berjalan sama-sama. hahaha.
    Salam.

    ReplyDelete
  13. manusia pejalan,
    diskripsimu menarik sekali bung!
    sepertinya chan mesti belajar lagi hehe..

    ReplyDelete
  14. @Ribka: thanks ya... saling kunjung selalu.hehe

    @Oge:pengalaman yang begitu mengesankanlah bagimu..hahahaha

    @Acep. makasih ya, emang keren kan tulisanku...hahaha

    @Cahaya: hehehe, selamat menulis yang keren juga ya..hihihihi

    @Yans: ah bung yans ini, hihihi. yuk nulis yang melankoli lagi. hahaha

    @Chan: jangan gitu, dirimu kan juga nulisnya bagus..hehehe. whats up??

    THANKS BUAT KUNJUNGAN SEMUA KAWAN :)

    ReplyDelete
  15. hey, manusia pejalan! hehehehe... sy membayangkan itu jd novel..hehehe...siip2. btw, kutipannya kamu simpan di hp kan? makanya familiar. hwihihiy...

    ReplyDelete
  16. @Amindra: hey manusia duduk duduk..hehehe. Kutipan yang mana itu, nyuw? hehehe

    ReplyDelete
  17. manusia duduk2?? jelek bgt! kutipan yg di note hpmu. hapemu kan hapeku jg. Hehehehe...

    ReplyDelete
  18. busyet...keren...good...btw themes nya lucu dech :)

    ReplyDelete
  19. yoi..keren donk pak gajah besar.. siapa dulu donk. hahaha
    makasih ya kunjungannya..hehehe
    sana balik ke kandang...:)

    ReplyDelete
  20. Rafael Yanuar - @opiloph2/20/2011

    Manusia pejalan? Pengelana? Bercinta dengan malam, berciuman cahaya bulan, sebenarnya kau mencintai dan dicintai semesta ini =)

    ReplyDelete
  21. Sudah lama tidak blogwalking. Dan baru baca info postingan ini di blogku. Maaf baru mampir. Hasil eksperimen yang bagus, menurut saya. Layak untuk dipupuk.

    ReplyDelete

silakan berkomentar