08 December, 2010

November Basah, Desember Lembab

November yang basah telah usai, dan inilah aku, aku yang akan menghadap pada bulan di ujung tahun.

Seperti biasa, kita akan merutuki waktu yang selalu terasa berlalu cepat. Dan aku, adalah orang yang selalu merasa banyak sekali telah tertinggal. Tertinggal oleh laju waktu, tertinggal banyak jejak, tertinggal oleh kenangan dan tertinggal ratusan harapan. Bagaimana harus kuceritakan padamu? Adakah bahasa yang layak, adakah kalimat yang jangkau? Lihatlah, inilah aku: manusia yang kehilangan diri. Manusia yang berjalan menyusuri malam yang patah hati, dan hari-hari yang basah oleh harapan! Seperti November yang basah, Desember yang lembab, dan tahun-tahun yang akan segera dijelang banyak orang.

Di luar, seperti biasa, hujan membasahi Desember yang lembab. Orang-orang berkejaran menarik jemuran, membawanya masuk rumah, membiarkannya berangin-angin di ruang tengah. Mereka akan segera berkumpul, di meja ada teko dan cangkir-cangkir teh hangat. Mereka lalu menyalakan televisi, menertawai mimpi dan menghiba pada iklan-iklan. Dan begitulah, aku tetap di simpang jalan ini, berteduh sembari menghimpun tenaga. Tapi tak pernah lepas dari kerinduan.

Desember yang lembab, meneteskan hujan bercampur kenangan. Sementara aku, hanya bisa mengigaumu dalam rasa kehilangan yang makin dalam.

Andai saja jarak bisa kuhitung. Akan kuhitung semuanya, biar kutagih untuk kita bayar dengan kerinduan saat tiba datangnya pertemuan! Tapi, adakah yang bisa menghitung jarak kehilangan? Panjang harapan dan jauhnya kerinduan? Ah, Aria. Telah banyak cerita aku tuliskan atasmu yang hilang dan kisah atas kepergianku yang malang.

Tak tahukah kau, kafe yang kerap kita datangi telah empat kali berubah pemilik, empat kali berubah menu dan empat musim juga aku kehilanganmu. Kapal-kapal telah pergi, berlalu jauh. Rumah semakin jauh, dan jarak kaki kita semakin panjang. Apalagi yang lebih menyakitkan selain perpisahan, jarak dan masa lau, juga kerinduan yang tak bisa diselam?

Banyak sekali kalimat ratapan aku tulis di jalan-jalan. Banyak sekali kalimat putus asa aku coret di buku harian. Tapi apa hasilnya? aku masih saja kehilangan.

Tahun baru akan segera datang. Orang-orang telah memasang kalender-kalender baru, tanggalan-tanggalan lama akan segera dicopot. Lalu, tahun-tahun lama akan segera dilupakan. Sementara aku, masihkan harus tetap kehilanganmu?

Malam semakin dingin, November yang basah telah aku lalui tanpamu, begitu juga Desember yang lembab ini. Aku masih sendiri di sini.

Jogjakarta, 7 Desember 2010

14 comments:

  1. aku pun sendiri, di sini...

    ReplyDelete
  2. @_@

    keren OM!! (ga bisa komen lebih banyak lagi) keren pokoknya.

    ReplyDelete
  3. :')
    hmm..bagus banget..touchy..

    btw, jadi rumah ungu donk sekarang??? :D

    ReplyDelete
  4. terkadang kita rajin membuat resolusi dan melanggarnya sendiri...

    ReplyDelete
  5. waow! can't wait for the next RAZONCA, RUMAH MERAH KITA!! mwah! =D

    ReplyDelete
  6. @dunia: bakar rumah kalau mau rame. haha
    @Huda: trims pak huda, kasih kritikan dunk..hehehe
    @Bestari: sengaja bikin melow..hehehe, biar pembacanya nangis darah
    @rengga: yoi ma men... asala jangan suka boong aja
    hehe
    @yayaz: hehehe, ini pemantik dulu biar rame..hehehehe... cip cip cip. siap2 jadi editornya ya.hehe

    ReplyDelete
  7. Jang, aku tk dpt lg tentukan wkt utk rahasia itu. Aku sgt terbuai oleh kesepianmu... karnaku. Meski--meski kau mengubah nama kecilku, nama ketika kita berlarian dlm hujan November-Desember, dulu, saat kanak. Kau ubah nama kecilku--Aryadi--menjadi--Arya. Biarlah mereka tau (sedang kau tak perlu malu), kpn, kpn sesama lelaki dpt berbagi harap, tanya, dan langkah--tapi kuyakin akan tiba masanya, saat kita tidak lagi perlu menyembunyikannya. Saat itu keadaan kita akan diterima, tdk hny oleh penulis-penulis--yg mmg paham isi hati--tapi oleh semua orang!
    Dengan rindu,
    Aryadi.

    ReplyDelete
  8. siaAaap!!!!!!!!!! siap menerima bayaran!!!!!!! =P =*

    ReplyDelete
  9. @oge: ah oge, hehehe. kenapa kau buka di sini rahasia2 tokoh imajinerku di sini. nggak misteri lagilah jadinya tulisan, prosa pendekku ini. ariadi ariadi... jukuplah jadi aria saja, nggak keren banget deh. lagian, biarlah semua jadi rahasia, ini baru prosa yang kedua, masih ada 3 seri lagi..wah kacau. aku delete lah nanti komentarmu itu..hehehe

    ReplyDelete
  10. @yayaz: woke woke... siiippp. tunggu ya, siap2 jadi manager produksi, editor, pembaca sekaligus marketing. hehehe

    ReplyDelete
  11. mampir euy.

    luar biasa bung bajang.

    ReplyDelete
  12. kau tak sendiri, ada banyak blogger indinesia yang siap menemanimu bung.meski dihadang jarak, tapi kita semua bisa berbagi...

    selamat tahun baru 2011.

    ReplyDelete
  13. wew. nda sanggup komen. luar biasa, pokoknya. boleh share nda, bang, gmana kembangkan gagasan dalam proses kreatif ??

    ReplyDelete
  14. Apalagi yang lebih menyakitkan selain perpisahan, jarak dan masa lau, juga kerinduan yang tak bisa diselam?

    like this words..:)

    jadi ingat sms yang masuk beberapa waktu lalu

    selalu lakukanlah perpisahan dengan ungkapan kasih sayang, siapa tau itu adalah perpisahan terakhir..:)

    pa kabar kang iwaaaaaaann..:)

    ReplyDelete

silakan berkomentar